Awal cerita kita mulai dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT.karena atas rahmatnya kita bisa berposting ria seperti saat ini. :D
Cerita ini di ketika saya berada di kampung halaman saya,kampung halaman saya berada di Kalimantan Barat tepatnya Kab.KETAPANG.secara strategis kampung halaman saya terdapat banyak sungai.terdapat macam ragam jenis ikan dan hewan-hewan lainnya.kebetuan salah satu hobby saya adalah memancing ikan.
Suatu ketika saya pergi memancing bersama temen-temen saya di anak sungai pawan menggunakan perahu sampan yang kecil.dari titik tempat kita berangkat ke spot tempat yang menurut kita banyak ikan membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam.karena sampan yang kita gunakan tidak memakai mesin,cuma menggunakan dayung sebagai penggeraknya.meskipun perjalanannya jauh dan memakan waktu lama.kita semua tidak merasa bosan atau lelah saat mendayung,karena salama di perjalanan kita di seguhi khas pemandangan yang indah dari hutan kalimantan.di sana masih banyak terdapat binatang-binatang primata seperti monyet,lutung,beruk dan sebagainya.kicauan burung-burung pun tak kalah indahnya untuk di dengar selama di dalam perjalan..
Ketika sampai di titik spot yang kita tuju.pancingan pun d siapkan untuk memancing.banyak jenis pancingan yang kita pakai waktu itu.ada yang masih tradisional,seperti tajur yang menggunakan batang salak dan juga ada yang hanya menggunakan tali pancing yag di gulung d botol minuman kemasan.singkat cerita,setelah di pasang uman,pancingan pun kami lempar.sambil menunggu pancingan kami di sambar oleh ikan.ada yang sambil ngobrol,ada yang sambil minum kopi yg di bawa dari rumah,ada yang makan kacang,ada yang melamun sendiri pokoknya banyak lah.ini dilakukan karna sembari membunuh rasa jenuh sambil menunggu umpan kami di sambar oleh ikan,karena memancing di sungai atau anak sungai seperti ini tidak seperti memancing d laut.karna di butuhkan extra kesabaran dan sedikit keberuntungan untuk mendapatkan ikan.umpan terkadang tidak di sambar sama sekali bahkan tidak jarang kita pulang dengan tangan hampa.
Setelah lama menunggu,umpan ku pun disambar oleh ikan,tarikan dan perlawanan dari ikan lumayan terasa dari pancingananku,ikan ini melakukan perlawanannya dengan cara menarik umpan kesana kemari,adrenalinku pun terpacu untuk terus meladeni perlawanan ikan tersebut.aku semakin penasaran,ikan apa yang sedang aku hadapi ini.tak jarang ikan ini melompat keluar dari permukaan air untuk melepaskan jerat dari mata kail,sensasi itu yg membuat memancing ikan menyenangkan.aku terus memutar kerekan pancinganku,saking semangatnya,aku berdiri dari perahu sampan yang aku gunakan.malang,perahu sampan tersebut oleng dan terbalik.semua peralatan yang kami bawa tenggelam ke sungai.seketika kami pun panik karna yang kami tau sungai tempat di mana kita mancing ini masih banyak buaya-buaya yang berkeliaran dan ikan toman yang terkenal ganas yang suka memakan monyet-monyet saat sedang minum,belom lagi di tambah mitos-mitos warga tentang ke angkeran sungai tersebut.dengan cepat kami berusaha membalikan perahu yang terbalik dengan sekuat tenaga.saking paniknya salah satu teman kami menagis karna takut di makan buaya.akhirnya kami berhasil membalikan perahu tersebut,dengan cepat kami naik ke perahu sambil mengumpulkan peralatan pancing yang masih tersisa.kami pun merasa lega karna bisa kembali keatas perahu.setelah kami sadar karna peralatan pancing kita banyak yang tenggelam setelah peristiwa tersebut,kami pun memutus kan untuk pulang,kami pun tersadar karna masalah kita belom selesai sampai disitu.dayung yang kami pakai untuk menggerakan sampan hanyut terbawa arus sungai.kami pun mencari di sekeliling kami siapa tau dayung nya tersangkut di suatu tempat.benar saja dayung tersebut ternya tersangkut di suatu dahan.kami pun mencari akal bagai mana mengambil dayung tersebut.aku pun berpikir bahwa aku saja yang mengambil dayung tersebut dengan cara nyebur ke sungai dan berenang mengambilnya.karna aku sadar aku yang menimbulkan kekacauan ini.tampa berfikir panjang dan menghiraukan ancaman tentang buaya yang kapan saja bisa menggigitku aku pun nyebur ke sungai,dengan cepat aku berenang menghampiri dayung yang tersangkut dan kembali lagi ke perahu sampan.setelah kembali dari mengambil dayung kita pun bergegas mengemaskan peralatan yang masih tersisa dan bersiap untuk pulang.karna hari pun sudah sore dan takut kemalaman di perjalan.
Ok,terimakasih karna sudah membaca postingan ku kli ini.......hanya berbagi pengalaman dan siapa tau menambah informasi dan wawasan anda.
sekiian dari kami assalamualaikum wr.wb...
Rabu, 15 Mei 2013
Ketahanan nasional secara dinamis
1.1 Latar Belakang
Terbentuknya bangsa Indonesia dilatarbelakangi oleh perjuangan seluruh bangsa Indonesia. Akan tetapi sepanjang perjalanan mengisi kemerdekaan, bangsa Indonesia tidak pernah lepas dari berbagai macam hambatan, ancaman, tantangan dan gangguan. Ancaman-ancaman tersebut dapat berupa ancaman invasi dari negara luar infiltrasi, subversi dan intervensi dari kekuatan kolonialisme dan imperialisme serta invasi dari darat, udara dan laut oleh musuh dari luar negeri, tidak hanya fisik, tapi sudah menyangkut ke hampir segala bidang. Ancaman dari dalam negeri sendiri telah banyak timbul. Sebut saja berbagai gerakan pemberontakan dan separatis yang pernah muncul, seperti gerakan PKI, DI/TII Kartosuwiryo, PRRI, Permesta yang pernah mengancam NKRI. Beberapa ancaman tersebut telah dapat diatasi bangsa Indonesia dengan adanya tekad bersama menggalang kesatuan dan keutuhan bangsa. Kekuatan bangsa dalam menjaga keutuhan Negara Indonesia tentu saja harus selalu didasari oleh segenap landasan baik landasan ideal, konstitusional dan juga wawasan visional. Landasan ini akan memberikan kekuatan konseptual filosofis untuk merangkum, mengarahkan, dan mewarnai segenap kegiatan hidup masyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dewasa ini ancaman separatis pun masih dapat kita lihat dengan banyaknya wilayah atau provinsi di Indonesia yang ingin dirinya merdeka. Banyak kita dengar terjadi berbagai aksi provokasi dan kerusuhan yang diwarnai nuansa etnis dan agama. Oleh karena hal itu, maka diperlukanlah kondisi dinamis dan dorongan kesadaran bangsa untuk memberikan motivasi dalam menciptakan suasana damai, tertib dalam tatanan nasional dan hubungan internasional yang serasi, yakni berupa sebuah Ketahan Nasional.
Negara adalah tempat di mana sebuah bangsa dipersatukan, dan juga merupakan sebuah lembaga tertinggi yang menyediakan segala kebutuhan agar harkat masyarakatnya dapat terangkat sesuai perkembangan zaman. Sebuah negara yang tangguh karena didukung oleh ketahanan nasionalnya (aspek ideologi, politik, ekonomi, budaya, serta hankam), maka negara itu akan mampu mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya, serta dengan mantap dapat membangun diri dalam mencapai tujuan nasional. Dengan demikian apabila terjadi gangguan pada salah satu aspek dari ketahanan nasional seperti yang dialami bangsa Indonesia saat ini, misalkan adanya konflik berdasarkan SARA, maka ketangguhan negara itu dengan sendirinya akan menurun (Suryohadiprojo S. 2009).
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas maka dalam makalah ini penulis mencoba mengulas lebih mendetail mengenai bagaimana Ketahanan Nasional menjadi bagaian dari tanggung jawab bangsa Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumusakan masalah sebagai berikut.
1.2.1 Apakah definisi ketahanan nasional Indonesia?
1.2.2 Apakah ciri-ciri ketahanan nasional Indonesia?
1.2.3 Apakah azas-azas ketahanan nasional Indonesia?
1.2.4 Apakah aspek-aspek ketahanan nasional Indonesia?
1.2.5 Bagaimanakah tinjauan ketahanan nasional Indonesia dari aspek Trigatra, Pancagatra, dan hubungan antargatra?
1.2.6 Bagaimanakah pendekatan kesejahteraan dan keamanan dalam konsepsi ketahanan nasional Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.3.1 Dapat mengetahui definisi ketahanan nasional Indonesia.
1.3.2 Dapat mengetahui ciri-ciri ketahanan nasional Indonesia.
1.3.3 Dapat mengetahui azas-azas ketahanan nasional Indonesia.
1.3.4 Dapat mengetahui aspek-aspek ketahanan nasional.
1.3.5 Dapat mengetahui tinjauan ketahanan nasional dari aspek Trigatra, Pancagatra,dan hubungan antargatra.
1.3.6 Dapat mengetahui pendekatan kesejahteraan dan keamanan dalam konsepsi ketahanan nasional Indonesia.
1.4 Manfaat Penulis
Dengan adanya penulisan makalah ini diharapkan pembaca khususnya mahasiswa sebagai penerus bangsa memiliki pemahaman lebih banyak tentang ketahanan nasional Indonesia, agar nantinya dapat berguna bagi bangsa.
1.5 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kajian pustaka yaitu dengan mengkaji materi dari buku-buku, internet serta sumber yang relevan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ketahanan Nasional Indonesia
Lemhannas, 2000 dalam Sukaya mengungkapkan bahwa Ketahanan Nasional Indonesia adalah kondisi dinamis suatu bangsa Indonesia yang meliputi segenap kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan ancaman, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun dari luar, untuk menjamin identitas, integritas, dan kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mencapai tujuan nasional. Dengan demikian, hakekat ketahanan nasional adalah keuletan dan ketangguhan suatu bangsa untuk menjamin kelangsungan hidupnya menuju kejayaan bangsa dan negara. Sebagai suatu konsepsi, ketahanan nasional pada dasarnya merupakan konsepsi pengaturan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang serta serasi dalam kehidupan nasional yang melingkupi seluruh aspek kehidupan secara utuh menyeluruh berdasarkan falsafah bangsa, ideologi negara, konstitusi dan wawasan nasional dengan metode asta gatra. Kesejahteraan yang hendak dicapai untuk mewujudkan ketahanan nasional Indonesia dapat digambarkan sebagai kemampuan bangsa dan negara untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 menjadi sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Sedangkan keamananan yang ingin dicapai adalah kemampuan bangsa dan negara Indonesia melindungi nilai-nilai nasional itu terhadap ancaman dari dalam maupun dari luar (Landrawan, 2007).
Pernyataan konseptual yang kompleks tersebut di atas dapat dijelaskan unsur-unsurnya sebagai berikut (Sunarso dan Kus Eddy, 2000 dalam Sukaya):
Ketangguhan adalah kekuatan yang menyebabkan seseorang atau sesuatu dapat bertahan, kuat menderita, atau dapat menanggulangi beban yang dipikulnya.
Keuletan adalah usaha secara giat dengan kemampuan yang keras dalam menggunakan kemampuan tersebut di atas untuk mencapai tujuan.
Identitas adalah ciri khas suatu bangsa atau negara dilihat secara keseluruhan. Negara dilihat dalam pengertian sebagai suatu organisasi masyarakat yang dibatasi oleh wilayah, dengan penduduk, sejarah, pemerintahan, dan tujuan nasional serta dengan peran internasionalnya.
Integritas yaitu kesatuan menyeluruh dalam kehidupan nasional suatu bangsa baik unsure sosial maupun alamiah, baik yang bersifat potensial maupun fungsional.
Ancaman adalah hal/usaha yang bersifat mengubah atau merombak kebijaksanaan dan usaha ini dilakukan secara konseptual, kriminal, dan politis.
Tantangan yaitu hal atau usaha yang bersifat menggugah kemampuan.
Hambatan yaitu hal atau usaha dari diri sendiri yang bersifat dan bertujuan melemahkan atau menghalangi secara tidak konsepsional.
Gangguan adalah hal atau usaha yang berasal dari luar, bersifat dan bertujuan melemahkan dan atau menghalangi secara tidak konsepsional.
Pemikiran konseptual tentang ketahanan negara ini didasarkan atas konsep geostrategik, yaitu konsep yang dirancang dan dirumuskan dengan memperhatikan kondisi bangsa dan konstelasi geograsi Indonesia yang disebut dengan konsepsi Ketahanan Nasional. Konsepsi Ketahanan Nasional adalah konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelengaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi, dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan negara secara utuh dan menyeluruh terpadu berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan Wawasan Nusantara (Lemannas, 2000 dalam Sukaya).
2.2 Ciri-ciri Ketahanan Nasional Indonesia
Ciri-ciri ketahanan nasional merupakan kondisi sebagai prasyarat utama bagi negara berkembang difokuskan untuk mempertahankan eksistensi dan mengembangkan kehidupan bangsa tidak hanya untuk pertahanan, tetapi juga untuk menghadapi dan mengatasi tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, baik secara langsung maupun tidak langsung, berisi keuletan dan ketangguhan dalam mengembangkan kekuatan nasional. Didasarkan pada metode asta gatra seluruh aspek kehidupan nasional tercermin dalam sistematika asta gatra yang terdiri atas aspek-aspek alamiah (trigatra) yang meliputi geografi, kekayaan alam, dan kependudukan dan lima aspek sosial (panca gatra) yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan berpedoman pada wawasan nasional. Wawasan nusantara merupakan cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Wawasan nusantara juga merupakan sumber utama dan landasan yang kuat dalam menyelenggarakan kehidupan nasional sehingga wawasan nusantara dapat disebut sebagai wawasan nasional dan merupakan landasan ketahanan nasional.
2.3 Asas-Asas Ketahanan Nasional Indonesia
Asas Ketahanan Nasional Indonesia dapat dipahami sebagai tata laku yang didasari nilai-nilai yang tersusun berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan Wawasan Nusantara, yang terdiri dari (Zidni, 2010):
a. Asas Kesejahteraan dan Keamanan
Pada asas ini dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan dan merupakan kebutuhan manusia yang mendasar serta esensial, baik sebagai perorangan maupun kelompok dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian kesejahteraan dan keamanan merupakan asas dalam Sistem Kehidupan Nasional. Tanpa kesejahteraan dan keamanan, Sistem Kehidupan Nasional tidak akan dapat berlangsung, sehingga kesejahteraan dan keamanan yang merupakan nilai instrinsik pada Sistem Kehidupan nasional itu sendiri sulit diwujudkan. Dalam realisasinya kondisi kesejahteraan dan keamanan dapat dicapai dengan menitikberatkan pada kesejahteraan, tetapi tidak berarti mengabaikan keamanan. Sebaliknya memberikan prioritas pada keamanan tidak boleh mengabaikan kesejahteraan. Baik kesejahteraan maupun keamanan harus selalu ada, berdampingan pada kondisi apapun.
b. Asas Komprehensif Integral atau Menyeluruh Terpadu
Sistem kehidupan nasional mencakup segenap aspek kehidupan bangsa secara utuh menyeluruh dan terpadu dalam bentuk perwujudan persatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi, dan selaras dari seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian Ketahanan Nasional mencakup ketahanan segenap aspek kehidupan bangsa secara utuh, menyeluruh dan terpadu (komprehensif integral).
c. Asas Mawas Ke Dalam dan Mawas Ke Luar
Sistem kehidupan nasional merupakan perpaduan segenap aspek kehidupan bangsa yang saling berinteraksi. Disamping itu, system kehidupan nasional juga berinteraksi dengan lingkungan sekelilingnya. Dalam proses interaksi tersebut dapat timbul berbagai dampak, baik yang bersifat positif maupun negatif. Untuk itu diperlukan sikap mawas ke dalam maupun ke luar, mencakup perilaku:
(1) Mawas Ke Dalam
Mawas ke dalam bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat dan kondisi kehidupan nasional itu sendiri berdasarkan nilai-nilai kemandirian yang proporsional untik meningkatkan kualitas derajat kemampuan bangsa yang ulet dan tangguh. Hal ini tidak berarti bahwa Ketahanan nasional mengandung sikap isolasi atau nasionalisme sempit.
(2) Mawas Ke Luar
Mawas ke luar bertujuan untuk dapat mengantisipasi, dan ikut berperan serta menghadapi dan mengatasi dampak lingkungan strategis luar negeri, serta menerima kenyataan adanya saling interaksi dan ketergantungan, dengan dunia internasional. Untuk menjamin kepentingan nasional, kehidupan nasional harus mampu mengembangkan kekuatan nasional, agar memberikan dampak keluar dalam bentuk daya tangkal dan daya tawar. Namun demikian, interaksi dengan pihak lain diuatamakan dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.
d. Asas Kekeluargaan
Asas kekeluargaan mengandung keadilan, kearifan, kebersamaan, kesetaraan, gotong royong, tenggang rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam asas ini diakui adanya perbedaan dan perbedaan tersebut harus dikembangkan secara serasi dalam hubungan kemitraan, serta dijaga agar tidak berkembang menjadi konflik yang bersifat antagonistik yang saling menghancurkan.
2.4 Aspek-aspek Ketahanan Nasional Indonesia Pada Kehidupan Bernegara
Ketahanan nasional merupakan gambaran dari kondisi sistem (tata) kehidupan nasional dalam berbagai aspek pada saat tertentu. Tiap-tiap aspek relatif berubah menurut waktu, ruang dan lingkungan terutama pada aspek-aspek dinamis sehingga interaksinya menciptakan kondisi umum yang sulit dipantau karena sangan komplek.
Konsepsi ketahanan nasional akan menyangkut hubungan antar aspek yang mendukung kehidupan, yaitu:
1. Aspek alamiah (Statis), meliputi :
a) Geografi
b) Kependudukan
c) Sumber kekayaan alam
2. Aspek sosial (Dinamis), meliputi :
a) Aspek Ekonomi
Ketahanan Ekonomi diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan perekonomian bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung untuk menjamin kelangsungan perekonomian bangsa dan negara berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
b) Aspek Sosial Budaya
Ketahanan sosial budaya diartikan sebagai kondisi dinamis budaya Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan sosial budaya.
c) Aspek Pertahanan dan Keamanan
Ketahanan pertahanan dan keamanan diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan pertahanan dan keamanan bangsa Indonesia mengandung keuletan, ketangguhan, dan kemampuan dalam mengembangkan, menghadapi dan mengatasi segala tantangan dan hambatan yang datang dari luar maupun dari dalam yang secara langsung maupun tidak langsung membahayakan identitas, integritas, dan kelangsungan hidup bangsa dan negara Kesatuan Republik Indonesia.
d) Aspek Politik
Ketahanan pada aspek politik diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan politik bangsa Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung untuk menjamin kelangsungan kehidupan politik bangsa dan negara Republik Indonesia berdasar Pancasila dan UUD 1945.
e) Aspek Ideologi
Dapat diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan ideologi bangsa Indonesia. Ketahanan ini diartikan mengandung keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan ideologi bangsa dan negara Indonesia.
2.5 Tinjauan Terhadap Ketahanan Nasional Dari Aspek Trigatra, Pancagatra, dan hubungan antargatra.
Konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan terpadu berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dan wawasan nusantara dengan kata lain konsepsi ketahanan nasional merupakan pedoman untuk meningkatkan keuletan dan ketangguhan bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dengan pendekatan kesejahteraan dan keamanan. Kesejahteraan dapat digambarkan sebagai kemampuan bangsa dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai nasional sebesar-besarnya demi kemakmuran yang adil dan merata, rohaniah dan jasmaniah. Sedangkan keamanan adalah kemampuan bangsa melindungi nilai-nilai nasional terhadap ancaman dari luar maupun dari dalam (Yahya, Nursidik, 2008). Berdasarkan pengertian konsep ketahanan nasional, seluruh aspek kehidupan nasional dirinci dengan sistematika ASTAGATRA atau delapan aspek yang terdiri dari TRIGATRA atau tiga aspek alamiah dan PANCAGATRA atau lima aspek sosial (Kansil, 2008).
Aspek Trigatra
a. Geografi
Lokasi dan posisi geografis suatu negara memberikan gambaran tentang bentuknya, baik kedalam maupun keluar. Bentuk kedalam menampakkan corak wujud, isi dan tata susunan wilayah negara. Sedangkan bentuk keluar menentukan situasi dan kondisi lingkungan serta hubungan timbal balik antara negara dan lingkunganya. Bentuk negara baik kedalam maupun keluar dalam pengertian geografis selain bermakna sebagai wadah dan ruang hidup bagi bangsa yang mendiaminya, sekaligus mempengaruhi wujud isi dan kehidupan bangsa, namun sebaliknya, kehidupan bangsa dapat mempengaruhi lingkungannya. Lokasi dan posisi geografi wilayah indonesia dalam peta dunia merupakan negara kepulauan, yang terdiri dari perairan dan aratan dengan perbandingan 3:2 serta letaknya diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Hindia dan Pasifik).
b. Keadaan Alam Dan Sumber Kekayaan Alam
Kekayaan alam suatu negara meliputi segala sumber dan potensi alam yang terdapat di dirgantara, permukan bumi termasuk laut dan perairan di permukaan bumi, oleh karena itu setiap negara berhak untuk memanfaatkan kekayan alamnya berdasarkan asas maksimal, lestari dan berdaya saing.
Jika digolangkan dari segi sifatnya, kekayaan alam dapat dibedkan menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Kekayaan alam yang dapat diperbaharui
2. Kekayaan alam yang tidak dapat diperbaharui
3. Kekayaan alam yang tetap
c. Penduduk
Penduduk adalah orang atau manusia yang mendiami atau bertempat tinggal disuatu tempat atau wilayah. Analisis kependudukan berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, politik maupun pertahanan keamanan, sebagai akibat dari adanya perubahan jumlah, komposisi, persebaran maupun kualitas penduduk. Faktor-faktor yang mempengaruhi kependudukan yaitu:
Jumlah dan komposisi penduduk yang setiap saat dapat berubah karena disebabkan bekerjanya tiga variabel utama yaitu fertilitas, mortalias dan migrasi.
Pengaruh fertilitas dan mortalitas terhadap perubahan jumlah dan komposisi penduduk dapat bersifat sebagai berikut:
Bila tingkat fertilitas dan mortalitas sama tinggi maka jumlah dan komposisi penduduk akan sangat lamban perubahannya, bila tingkat fertilitas dan mortalits sama rendah maka jumlah dan komposisi penduduk juga tidak bayak mengalami perubahan. Bila fertilitas tinggi sedangkan mortalitas menurun dengan cepat atau rendah maka jumlah dan komposisi peduduk akan mengalami perubahan cepat. Bila fertilitas rendah sedangkan mortalitas tinggi maka jumlah dan komposisi peduduk juga akan mengalami prubahan besar (namun hal ini jarang terjadi).
Jumlah dan komposisi penduduk dipengaruhi oleh bekerjanya variabel demografis
Masalah-masalah kependudukan di Indonesia itu dewasa ini pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
1. Laju petumbuhan penduduk yang pesat terjadi sejak awal abad 20 yang lalu yang disebabkan oeh menurunnya tingkat mortalitas dengan pesat.
2. Persebaran penduduk indonesia yang tidak merata atau berimbang, hal ini akan berdampak terhadap pemerataan pembangan dan kesejahteraan ekonomi dan sosial penduduk.
Jika dikaitkan dengan ketahanan nasional laju ketahanan penduduk dapat memberi arti yang positif bila dikaitkan dengan kesediaan dan angkatan kerja, hal ini dapat membuat ketahanan nasional.
Aspek Pancagatra
a. Gatra Ideologi
Ideologi secara formal berarti, sekumpulan gagasan yang sistematik, secara umum ideologi berarti seperangkat nilai yang diyakini kebenarannya dan digunakan sebagai dasar menata masyarakat dalam bernegara. Ketahanan nasioal Indonesia dibidang ideologi adalah kondisi dinamik bangsa Indonesia yang berisi keuletan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan serta gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam yang lngsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan hidup ideologi bangsa dan negara republik Indonesia. Ideologi harus mengandung tiga dimensi sebagai berikut:
- Dimensi realitas yaitu ideologi harus dapat mencerminkan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat.
- Dimensi idealisme yaitu ideologi harus mampu memberikan harapan kepada berbagai kelompok dalam masyarakat untuk membina kehidupan bersama secara lebih baik.
- Dimensi Fleksibelitas yaitu kemampuan suatu ideologi dalam mempengaruhi dan sekaligus menyesuaikan diri dengan pertumbuhan atau perkembangan masyarakat.
Pancasila memang telah memilliki ketiga dimensi tersebut di atas, hanya saja keadarnya masih belum begitu tampak. Untuk memperoleh ketahanan di bidang ideologi ini dapat ditempuh beberapa langkah sebagai berikut :
- Memupuk identitas nasional berdasarkan Demokrasi Pancasila meliputi menciptakan sistem masyarakat yang bersemangat kekeluargaan, menciptakan sistem pemerintahan yang didasarkan pada kerakyatan dan permusyawaratan.
- Memelihara kesatuan nasional sesuai jiwa Wawasan Nusantara dengan memecahkan antara lain persoalan-persoalan keadilan sosial seperti: menentukan beberapa persen dari pendapatan nasional ditujukan untuk akumulasi modal dan beberapa persen untuk konsumsi.
- Meningkatkan motivasi nasional dengan cara memecahkan persoalan-persoalan berikut: Bagaimana dilakukan bimbingan kepada seluruh rakyat agar selalu melihat keadaan lingkungannya secara inovatif dan responsif.
Ada berbagai faktor yang mempengaruhi ketahaan nasional di bidang ideology, yaitu:
1. Kemajemukan masyarakat indonesia
2. Perkembangan dunia
3. Kepemimpinan
4. Pembangunan nasional.
b. Gatra Politik
Ketahanan Nasional Indonesia di bidang politik diartikan sebagai kondisi dinamik bangsa Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan serta gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan politik bangsa dan negara republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Politik di sini diartikan segenap kegiatan yang berpengaruh dan berarti terhadap penetapan alokasi nilai yang meningkat. Upaya untuk meningkatkan ketahanan politik dapat ditempuh dalam dua tahap yaitu jangka pendek dan jangka panjang.
Pembinaan jangka pendek di bidang politik dapat dilakukan dengan tindakan sebagai berikut:
- Meningkatkan administrasi pemerintahan guna mencapai efisiensi dan ekonomi dalam pembangunan nasional.
- Meningkatkan pembinaan generasi muda dengan menghubungkan secara konseptual peranan pemuda dengan tujuan pembangunan, dengan memperhitungan segala tantangan-tantangannya.
- Meningkatkan pembinaan kaum cendekiawan
- Peningkatan pembinaan demobilisan dengan cara mengeluarkan kebijaksanaan di bidang investasi dan employment, misalnya penyiapan para demobilisan untuk menuju ketahanan desa dalam sistem Hankamrata.
- Pemeliharaan iklim kehidupan politik yang baik untuk mencegah timbulnya oposisi yang tidak wajar, dengan cara mengembangkan release techniques tanpa membuka peluang bagi timbulnya liberalisme.
- Perjuangan di forum internasional
Pembinaan jangka panjang, kita harus melihat masalah-masalah lebih mendasar lagi. Bila sistem politik tidak dapat mempertahankan kecenderungan alamiah untuk hidup, maka ia akan dapat menumbuhkan ketegangan-ketegangan dalam segala nuansanya. Walaupun demikian justru unsur dinamik dari padanya adalah kemampuannya untuk tumbuh agar perubahan-perubahan terakomodasi dalam proses politik.
Dalam hubungan ini perlu dikemukakan tiga citra dalam pembangunan politik yaitu:
- Masalah yang berkaitan dengan budaya politik
- Masalah yang berkaitan dengan struktur politik
- Masalah yang berkaitan dengan proses politik
Dalam pembinaan jangka panjang tersebut stabilitas yang ingin dicapai adalah kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa serta tumbuhnya kehidupan konstitusional, demokratik dan berdasarkan hukum.
Pemikiran pembangunan politik harus dilaksanakan melalui berbagai dimensi yang berkaitan sebagai berikut:
- Dimensi Filosofik- ideologik, ini berkaitan dengan pengertian sebenarnya dari pandangan hidup, pandangan dunia dan dasar negara.
- Dimensi Stabilitas politik yang dinamik, ini berkaitan dengan usaha untuk menumbuhkan sistem politik demokrasi Pancasila melalui usaha peningkatan partisipasi politik warga negara yang harus diseimbangkan dengan tata-laku politik penguasa yang selaras serta dalam batas-batas toleransi konsensus nasional.
- Dimensi Partisipasi Politik Masyarakat, ini merupakan hal-hal yang berkaitan dengan anggota masyarakat yang menjadi pendukung dari sistem politik itu sendiri.
- Dimensi Keseimbangan Politik, Administrasi dan Hukum, ini bertalian dengan kelembagaan politik bangunan atas dan bawah.
- Dimensi perubahan, ini berkaitan dengan proses perubahan yang sedang dialami masyarakat Indonesia dewasa ini yang disebabkan karena usaha pembangunan berencana maupun sebagai akibat dari hubungan dengan pihak luar karena keterbukaan dalam rangka modernisasi.
Politik dalam negeri adalah kehidupan politik dan kenegaraan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang disebut sebagai demokrasi Pancasila. Sementara itu politik luar negeri merupakan salah satu sarana pencapaian kepentingan nasional dalam hubungan antar bangsa. Jika dilihat dari peranannya, maka politik luar negeri Indonesia sebagai komponen strategi bangsa merupakan proyeksi kepentingan ke dalam kehidupan antar bangsa dalam rangka pencapaian tujuan nasional.
c. Gatra Ekonomi
Kegiatan ekonomi adalah kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa, usaha untuk meningkatkan taraf hidup, masyarakat baik secara individu maupun kelompok. Adapun faktor eksternal maupun internal yang secara subjektif berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi suatu negara adalah (Landrawan, 2007):
1. Sifat keterbukaan ekonomi
2. Struktur ekonomi
3. Potensi dan pengelolaan sumber alam
4. Potensi dan pengelolaan sumber daya manusia
5. Teknologi
6. Birokrasi dan sikap masyarakat
7. Manajemen
8. Infrastruktur
9. Hubungan ekonomi luar negeri
10. Diversifikasi pemasaran
Pertumbuhan ekonomi perlu dikejar guna meningkatkan pendapatan nasional yang pada gilirannnya dapat meningkatkan konsumsi dan investasi untuk pertumbuhan lebih lanjut. Peningkatan konsumsi antara lain dapat digunakan untuk meningkatkan pendapatan per kapita dan untuk menigkatkan kadar gatra-gatra yang lain. Masalah-masalah yang perlu mendapat perhatian dalam pembinaan ekonomi adalah sebagai berikut:
- Meningkatkan produksi dan industri nasional yang konsisten dengan bidang-bidang lain seperti pembangunan wilayah dan penyebaran penduduk.
- Meningkatkan pembinaan wiraswasta pribumi.
- Meningkatkan oto-aktivitas masyarakat.
- Perbaikan sistem jasa dengan fokus penyempurnaan sistem birokrasi prusahaan-perusahaan pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
- Perbaikan sistem pajak dan cara penarikannya.
d. Ketahanan Sosial- Budaya
Masyarakat adalah kehidupan bersama yang diorganisasikan. Dalam hubungan ini masyarakat dapat diartikan sebagai jaringan hubungan antar manusia, yang meliputi tatanan- tatanan sosial. Kehidupan masyarakat memperlihatkan segala aspek interaksi sosial, sedangkan kehidupan budaya memperlihatkan segala hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Atas dasar kenyataan–kenyataan tersebut maka gatra sosial - budaya memainkan peranan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan Tannas, karena akhirnya efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program pembangunan untuk meningkatkan Tannas sebagian besar bergantung pada daya–dukung masyarakat, baik secara fisik maupun mental.
Kehidupan sosial budaya bangsa negara Indonesia adalah kehidupan yang meyangkut aspek kemasyarakatan dan kebudayaan yang dijiwai oleh falsafah Pancasila. Esensi pengaturan dan penyelenggaraan sosial budaya bangsa Indonesia adalah mengembangkan kondisi sosial budaya, sehhingga setiap warga masyarakat dapat merealisasikan pribadi dan segenap potensi manusiawinya yang dilandasi nilai-nilai Pancasila.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan di bidang sosial budaya dapat bersumber dari spek-aspek lain dari luar sosial budaya, berupa nilai dan sistem nilai di luar Pancasila dan UUD 1945 yang ada dan tumbuh berkebang di Indonesia, maupun sebagai hasil dari proses perubahan sosial budaya dan dampak dari pembangunan. Faktor-faktor yaitu agama, tradisi, serta pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam negara yang sedang berkembang, di mana modal dan tenaga terdidik masih langka. Penggunaan hasil dan teknologi modern masih terbatas secara kualitatif, maka partisipasi masyarakat dalam pembangunan untuk meningkatkan Tannas sangat diharapkan. Dengan cara demikian sekaligus pengangguran dapat dikurangi dan produksi ditingkatkan, terutama di daerah pedesaan. Adapun strategi yang perlu dilakukan dalam gatra sosial- budaya ini adalah sebagai berikut:
- Mengadakan pembaharuan teknoogi dengan cara pemindahan teknologi dari negara yang sudah maju dalam bentuk transplalasi dari lingkungan asalnya, baik yang berupa metode ilmiah maupun yang berupa data manusiawi.
- Mengembangkan program pendidikan tenaga kerja pembangunan yang dimulai dari usaha untuk menciptakan swasembada pedesaan.
e. Gatra Pertahanan Keamanan
Dalam pembinaan gatra militer/Hankam perlu dikemukakan kerangka pemikiran yang meliputi premis-premis, asas-asas untuk pengembangan kekuatan Hankam, dinamika politik dan strategi.
Adapun premis-premis yang perlu diperhatikan dalam gatra militer/ Hankam ini adalah sebagai berikut:
- Dokrin dan struktur Hankam harus berkaitan dengan tujuan nasioanal.
- Jumlah penduduk Indonesia cukup besar, tetapi masih dalam kualitas yang belum memadai.
- Dalam waktu dekat, apabila terjadi perang, kita tidak mempunyai pilihan untuk mengalahkan lawan secara mutlak.
- Apabila ”penghancuran lawan” dan ”penguasaan wilayah” selalu menjadi sasaran Hankam maka berdasarkan kemampuan kita dewasa ini guna memperoleh keuntungan strategik, kita lebih baik memilih sasaran ”penghancuran lawan”.
- Kita harus dapat memanfaatkan kondisi geografik kita untuk memperoleh keuntungan strategik dengan cara melakukan pertahanan ketat diseluruh wilayah Negara R.I.
Adapun asas-asas untuk pengembangan kekuatan Hankam adalah sebagai berikut:
- ABRI harus berusaha mencapai superioritas kualitatif, yaitu dalam moral, motivasi, ilmu dan teknologi, profesi dan orginalitas pemikiran.
- Eksploitasi penuh sumber daya nasional untuk program Hankam diwaktu perang dengan modus bangsa berssenjata dalam pertahanan wilayah.
- Pengembangan kekuatan Hankam yang bukan untuk otensif agar tidak dikhawatirkan oleh negara-negara tetangga.
- Pengembangan sistem pengindera-keputusan yang efektif untuk memungkinkan pengerahan cadangan nasional pada waktu diperlukan.
- Usaha swa-sembada dibidang peralatan dan prasenjata untuk menghindari interversi asing, karena hal ini akhirnya akan menjurus ke arah dominasi.
- Menciptakan kedalaman strategik dengan cara pertahanan wilayah.
Dalam melaksanakan pengembangan kekuatan bersenjata itu harus selalu mempertimbangan politik luar negeri yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
- Menggerakkan dinamika politik untuk mencegah serangan lawan.
- Memaksa lawan untuk berperang dengan pihak lain.
- Hubungan internasional kita harus dijabarkan dari situasi konflik antara Pancasila dengan ideologi-ideologi tandingan seperti ideologi PKI dan ideologi ekstrim- ekstrim lainnya (Soewarso, 1984).
Hubungan Antar Gatra
Hubungan antar gatra baik dalam tri gatra maupun panca gatra merupakan hubungan timbal balik yang erat dan kait-mengkait secara menyeluruh, dalam arti saling mempengaruhi, kertergantungan yang serasi dan seimbang. Dengan demikian maka peubahan di salah satu gatra akan berpengaruh terhadap gatra lainnya.
1. Hubungan Antar Gatra dalam Tri Gatra
a. Gatra geografi dan kekayaan alam. Situasi dan kondisi geografis sangat mempengaruhi jenis, kualitas, kuantitas dan persebaran kekayaan alam, dan sebaliknya kekayaan alam dapat mempengaruhi kondisi (karakter) geografi.
b. Gatra geografi dan kependudukkan. Bentuk-bentuk kehidupan dan penduduk dipengaruhi oleh jenis, kualitas, kuantitas dan persebaran kekayaan alam, dan sebaliknya. Kekayaan alam mempunyai manfaat jika telah diolah oleh penduduk yang telah memiliki IPTEK.
2. Hubungan Antar Gatra dalam Panca Gatra
a. Gatra ideologi dengan gatra lainnya. Ideologi sebagai falsafah atau pandagan hidup bangsa dan landasan idiil negara merupakan nilai penentu dan menjadi landasan bagi norma-norma kehidupan nasional yang meliputi seluruh gatra dalam panca gatra dalam rangka memelihara kehidupan bangsa dan pencapaian tujuan nasional.
b. Gatra politik dengan gatra lainnya. Kehidupan politik nasional pada dasarnya dilandasi oleh ideologi bangsa yang dipengaruhi oleh kehidupan ekonomi, sosial budaya dan ditunjang oleh situasi pertahanan dan keamanan selain itu juga dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan dan kesadaran berpolitik bangsa, tingkat kemakmuran ekonomi, sistem nilai sosial budaya.
c. Gatra ekonomi dengan gatra lainnya. Kehidupan ekonomi dilandasi oleh ideologi bangsa dipengaruhi pula oleh kehidupan politik nasional, situasi sosial budaya dan situasi kemananan. Sebaliknya situasi ekonomi yang kacau akan membawa situasi buruk pada kehidupan ideologi, politik, dan sosial budaya maupun kemananan. Namun, jika situasi ekonomi stabil dan maju akan dapat menunjang stabilitas dan peningkatan ketahanan dibidang lainnya.
d. Gatra sosial budaya dengan gatra lainnya. Kehidupan sosial budaya merupakan pengejawantahan ideologi atau pandangan hidup bangsa, serta dipengaruhi oleh kehidupan politik, ekonomi dan situasi keamanan.
e. Gatra pertahanan dan kemananan dengan gatra lainnya. Situasi kemananan sangat ditunjang oleh kemantapan ideologi bangsa, kondisi politik, kehidupan ekonomi, dan sosial budaya.
3. Hubungan antara Tri Gatra dengan Panca Gatra
a. Ketahanan nasional pada hakekatnya bergantung pada kemampuan dan keuletan bangsa dan negara dalam memanfaatkan aspek alamiah sebagai dasar penyelengaraan kehidupan nasional disegala bidang.
b. Ketahanan nasional adalah suatu pengertian holistik dimana terdapat hubungan antar gatra dalam keseluruhan kehidupan nasional.
c. Kelemahan pada salah satu aspek berakibat muncul kelamahan pada bidang lain dan berpengaruh pada kondisi keseluruhan.
d. Ketahanan nasional bukan merupakan kondisi hasil penjumlahan dari ketahanan bidang disegenap gatranya, melainkan merupakan resultante keterkaitan yang integratif dari kondisi-kondisi kehidupan bangsa dibidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan.
2.6 Pendekatan Kesejahteraan dan Keamananan dalam Konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia
Dalam sebuah catatan mengenai Ketahanan nasional, disebutkan bahwa konsepsi ketahanan nasional Indonesia menggunakan pendekatan kesejahteraan dan keamanan. Penyelenggaraan kesejahteraan memerlukan tingkat keamanan tertentu, dan sebaliknya penyelenggaraan keamanan memerlukan tingkat kesejahteraan tertentu. Tanpa kesejahteraan dan keamanan, sistem kehidupan nasional tidak akan dapat berlangsung karena pada dasarnya keduanya merupakan nilai intrinsik yang ada dalam kehidupan nasional. Konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan terpadu berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dan wawasan nusantara (Ardiabara, 2009).
Dengan kata lain konsepsi ketahanan nasional merupakan pedoman untuk meningkatkan keuletan dan ketangguhan bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dengan pendekatan kesejahteraan dan keamanan. Kesejahteraan dapat digambarkan sebagai kemampuan bangsa dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai nasionalnya demi sebesar-besarnya kemakmuran yang adil dan merata, rohaniah dan jasmaniah. Sedangkan keamanan adalah kemampuan bangsa melindungi nilai-nilai nasional terhadap ancaman dari luar maupun dari dalam.
Dengan demikian, kedua pendekatan tersebut merpakan dua hal yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Penyelenggaraan kesejahteraan memerlukan tingkat keamanan tertentu, sebaliknya penyelenggaraan keamanan memerlukan tingkat kesejahteraan tertentu. Sehingga penyelenggaraan ketahanan nasional menghasilkan gambaran kesejahteraan dan sekaligus pula gambaran keamanan.
Dalam kehidupan kenegaraan, tingkat kesejahteraan dan keamanan nasional merupakan tolak ukur ketahanan nasional. Peran masing-masing gatra dalam astagrata seimbang dan saling mengisi. Maksudnya antargatra mempunyai hubungan yang saling terkait dan saling bergantung secara utuh menyeluruh membentuk tata laku masyarakat dalam kehidupan nasional. Dalam hal ini, ketahanan nasional memiliki beberapa sifat yang melandasinya untuk tetap memberikan kontribusi konstruktif bagi Indonesia. Sifat – sifat tersebut antara lain tercermin dari beberapa hal di bawah ini, antara lain (Ardiabara, 2009):
1. Mandiri, artinya ketahanan nasional bersifat percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri dengan keuletan dan ketangguhan yang mengandung prinsip tidak mudah menyerah serta bertumpu pada identitas, integritas, dan kepribadian bangsa. Kemandirian ini merupakan prasyarat untuk menjalin kerja sama yang saling menguntungkan dalam perkembangan global.
2. Dinamis, artinya ketahanan nasional tidaklah tetap, melainkan dapat meningkat ataupun menurun bergantung pada situasi dan kondisi bangsa dan negara, serta kondisi lingkungan strategisnya. Hal ini sesuai dengan hakikat dan pengertian bahwa segala sesuatu di dunia ini senantiasa berubah. Oleh sebab itu, upaya peningkatan ketahanan nasional harus senantiasa diorientasikan ke masa depan dan dinamikanya di arahkan untuk pencapaian kondisi kehidupan nasional yang lebih baik.
3. Manunggal, artinya ketahanan nasional memiliki sifat integratif yang diartikan terwujudnya kesatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi, dan selaras di antara seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
4. Wibawa, artinya ketahanan nasional sebagai hasil pandangan yang bersifat manunggal dapat mewujudkan kewibawaan nasional yang akan diperhitungkan oleh pihak lain sehingga dapat menjadi daya tangkal suatu negara. Semakin tinggi daya tangkal suatu negara, semakin besar pula kewibawaannya.
5. Konsultasi dan kerjasama, artinya ketahanan nasional Indoneisa tidak mengutamakan sikap konfrontatif dan antagonis, tidak mengandalkan kekuasaan dan kekuatan fisik semata, tetapi lebih pada sifat konsultatif dan kerja sama serta saling menghargai dengan mengandalkan pada kekuatan moral dan kepribadian bangsa.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan dan pemaparan di atas maka dapat di tarik beberapa kesimpulan sebgai berikut.
3.1.1 Ketahanan Nasional Indonesia adalah kondisi dinamis suatu bangsa Indonesia yang meliputi segenap kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan ancaman, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun dari luar, untuk menjamin identitas, integritas, dan kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mencapai tujuan nasiona.
3.1.2 Ciri-ciri ketahanan nasional merupakan kondisi sebagai prasyarat utama bagi negara berkembang difokuskan untuk mempertahankan eksistensi dan mengembangkan kehidupan bangsa tidak hanya untuk pertahanan, tetapi juga untuk menghadapi dan mengatasi tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, baik secara langsung maupun tidak langsung, berisi keuletan dan ketangguhan dalam mengembangkan kekuatan nasional.
3.1.3 Adapun asas-asas Ketahanan Nasional yaitu asas kesejahteraan dan keamanan, asas komprehensif integral atau menyeluruh dan terpadu, asas mawas ke dalam dan mawas ke luar, dan asas kekeluargaan.
3.1.4 Ketahanan Nasional Indonesia mencakup dua aspek yaitu aspek alamiah dan sosial.
3.1.5 Tinjauan terhadap Ketahanan Nasional dari aspek trigatra dan pancagatra. Aspek tri gatra meliputi geografi, keadaan alam dan sumber kekayaan alam, serta penduduk sedangkan aspek panca gatra meliputi gatra ideologi, gatra politik, gatra ekonomi, ketahanan sosial- budaya, gatra pertahanan keamanan. Hubungan antar gatra baik dalam tri gatra maupun panca gatra merupakan hubungan timbal balik yang erat dan kait-mengkait secara menyeluruh, dalam arti saling mempengaruhi, kertergantungan yang serasi dan seimbang.
3.1.6 Penyelenggaraan ketahanan nasional menggunakan pendekatan kesejahteraan dan keamanan. Dimana tingkat kesejahteraan dan keamanan nasional merupakan tolak ukur ketahanan nasional.
3.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan yaitu kita sebagai warga negara indonesia hendaknya meningkatkan ketahanan nasional untuk mewujudkan masyarakat indonesia yang sejahtera dan aman
http://wienda-phy08.blogspot.com/2010/11/ketahanan-nasional.html
Terbentuknya bangsa Indonesia dilatarbelakangi oleh perjuangan seluruh bangsa Indonesia. Akan tetapi sepanjang perjalanan mengisi kemerdekaan, bangsa Indonesia tidak pernah lepas dari berbagai macam hambatan, ancaman, tantangan dan gangguan. Ancaman-ancaman tersebut dapat berupa ancaman invasi dari negara luar infiltrasi, subversi dan intervensi dari kekuatan kolonialisme dan imperialisme serta invasi dari darat, udara dan laut oleh musuh dari luar negeri, tidak hanya fisik, tapi sudah menyangkut ke hampir segala bidang. Ancaman dari dalam negeri sendiri telah banyak timbul. Sebut saja berbagai gerakan pemberontakan dan separatis yang pernah muncul, seperti gerakan PKI, DI/TII Kartosuwiryo, PRRI, Permesta yang pernah mengancam NKRI. Beberapa ancaman tersebut telah dapat diatasi bangsa Indonesia dengan adanya tekad bersama menggalang kesatuan dan keutuhan bangsa. Kekuatan bangsa dalam menjaga keutuhan Negara Indonesia tentu saja harus selalu didasari oleh segenap landasan baik landasan ideal, konstitusional dan juga wawasan visional. Landasan ini akan memberikan kekuatan konseptual filosofis untuk merangkum, mengarahkan, dan mewarnai segenap kegiatan hidup masyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dewasa ini ancaman separatis pun masih dapat kita lihat dengan banyaknya wilayah atau provinsi di Indonesia yang ingin dirinya merdeka. Banyak kita dengar terjadi berbagai aksi provokasi dan kerusuhan yang diwarnai nuansa etnis dan agama. Oleh karena hal itu, maka diperlukanlah kondisi dinamis dan dorongan kesadaran bangsa untuk memberikan motivasi dalam menciptakan suasana damai, tertib dalam tatanan nasional dan hubungan internasional yang serasi, yakni berupa sebuah Ketahan Nasional.
Negara adalah tempat di mana sebuah bangsa dipersatukan, dan juga merupakan sebuah lembaga tertinggi yang menyediakan segala kebutuhan agar harkat masyarakatnya dapat terangkat sesuai perkembangan zaman. Sebuah negara yang tangguh karena didukung oleh ketahanan nasionalnya (aspek ideologi, politik, ekonomi, budaya, serta hankam), maka negara itu akan mampu mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya, serta dengan mantap dapat membangun diri dalam mencapai tujuan nasional. Dengan demikian apabila terjadi gangguan pada salah satu aspek dari ketahanan nasional seperti yang dialami bangsa Indonesia saat ini, misalkan adanya konflik berdasarkan SARA, maka ketangguhan negara itu dengan sendirinya akan menurun (Suryohadiprojo S. 2009).
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas maka dalam makalah ini penulis mencoba mengulas lebih mendetail mengenai bagaimana Ketahanan Nasional menjadi bagaian dari tanggung jawab bangsa Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumusakan masalah sebagai berikut.
1.2.1 Apakah definisi ketahanan nasional Indonesia?
1.2.2 Apakah ciri-ciri ketahanan nasional Indonesia?
1.2.3 Apakah azas-azas ketahanan nasional Indonesia?
1.2.4 Apakah aspek-aspek ketahanan nasional Indonesia?
1.2.5 Bagaimanakah tinjauan ketahanan nasional Indonesia dari aspek Trigatra, Pancagatra, dan hubungan antargatra?
1.2.6 Bagaimanakah pendekatan kesejahteraan dan keamanan dalam konsepsi ketahanan nasional Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.3.1 Dapat mengetahui definisi ketahanan nasional Indonesia.
1.3.2 Dapat mengetahui ciri-ciri ketahanan nasional Indonesia.
1.3.3 Dapat mengetahui azas-azas ketahanan nasional Indonesia.
1.3.4 Dapat mengetahui aspek-aspek ketahanan nasional.
1.3.5 Dapat mengetahui tinjauan ketahanan nasional dari aspek Trigatra, Pancagatra,dan hubungan antargatra.
1.3.6 Dapat mengetahui pendekatan kesejahteraan dan keamanan dalam konsepsi ketahanan nasional Indonesia.
1.4 Manfaat Penulis
Dengan adanya penulisan makalah ini diharapkan pembaca khususnya mahasiswa sebagai penerus bangsa memiliki pemahaman lebih banyak tentang ketahanan nasional Indonesia, agar nantinya dapat berguna bagi bangsa.
1.5 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kajian pustaka yaitu dengan mengkaji materi dari buku-buku, internet serta sumber yang relevan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ketahanan Nasional Indonesia
Lemhannas, 2000 dalam Sukaya mengungkapkan bahwa Ketahanan Nasional Indonesia adalah kondisi dinamis suatu bangsa Indonesia yang meliputi segenap kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan ancaman, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun dari luar, untuk menjamin identitas, integritas, dan kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mencapai tujuan nasional. Dengan demikian, hakekat ketahanan nasional adalah keuletan dan ketangguhan suatu bangsa untuk menjamin kelangsungan hidupnya menuju kejayaan bangsa dan negara. Sebagai suatu konsepsi, ketahanan nasional pada dasarnya merupakan konsepsi pengaturan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang serta serasi dalam kehidupan nasional yang melingkupi seluruh aspek kehidupan secara utuh menyeluruh berdasarkan falsafah bangsa, ideologi negara, konstitusi dan wawasan nasional dengan metode asta gatra. Kesejahteraan yang hendak dicapai untuk mewujudkan ketahanan nasional Indonesia dapat digambarkan sebagai kemampuan bangsa dan negara untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 menjadi sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Sedangkan keamananan yang ingin dicapai adalah kemampuan bangsa dan negara Indonesia melindungi nilai-nilai nasional itu terhadap ancaman dari dalam maupun dari luar (Landrawan, 2007).
Pernyataan konseptual yang kompleks tersebut di atas dapat dijelaskan unsur-unsurnya sebagai berikut (Sunarso dan Kus Eddy, 2000 dalam Sukaya):
Ketangguhan adalah kekuatan yang menyebabkan seseorang atau sesuatu dapat bertahan, kuat menderita, atau dapat menanggulangi beban yang dipikulnya.
Keuletan adalah usaha secara giat dengan kemampuan yang keras dalam menggunakan kemampuan tersebut di atas untuk mencapai tujuan.
Identitas adalah ciri khas suatu bangsa atau negara dilihat secara keseluruhan. Negara dilihat dalam pengertian sebagai suatu organisasi masyarakat yang dibatasi oleh wilayah, dengan penduduk, sejarah, pemerintahan, dan tujuan nasional serta dengan peran internasionalnya.
Integritas yaitu kesatuan menyeluruh dalam kehidupan nasional suatu bangsa baik unsure sosial maupun alamiah, baik yang bersifat potensial maupun fungsional.
Ancaman adalah hal/usaha yang bersifat mengubah atau merombak kebijaksanaan dan usaha ini dilakukan secara konseptual, kriminal, dan politis.
Tantangan yaitu hal atau usaha yang bersifat menggugah kemampuan.
Hambatan yaitu hal atau usaha dari diri sendiri yang bersifat dan bertujuan melemahkan atau menghalangi secara tidak konsepsional.
Gangguan adalah hal atau usaha yang berasal dari luar, bersifat dan bertujuan melemahkan dan atau menghalangi secara tidak konsepsional.
Pemikiran konseptual tentang ketahanan negara ini didasarkan atas konsep geostrategik, yaitu konsep yang dirancang dan dirumuskan dengan memperhatikan kondisi bangsa dan konstelasi geograsi Indonesia yang disebut dengan konsepsi Ketahanan Nasional. Konsepsi Ketahanan Nasional adalah konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelengaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi, dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan negara secara utuh dan menyeluruh terpadu berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan Wawasan Nusantara (Lemannas, 2000 dalam Sukaya).
2.2 Ciri-ciri Ketahanan Nasional Indonesia
Ciri-ciri ketahanan nasional merupakan kondisi sebagai prasyarat utama bagi negara berkembang difokuskan untuk mempertahankan eksistensi dan mengembangkan kehidupan bangsa tidak hanya untuk pertahanan, tetapi juga untuk menghadapi dan mengatasi tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, baik secara langsung maupun tidak langsung, berisi keuletan dan ketangguhan dalam mengembangkan kekuatan nasional. Didasarkan pada metode asta gatra seluruh aspek kehidupan nasional tercermin dalam sistematika asta gatra yang terdiri atas aspek-aspek alamiah (trigatra) yang meliputi geografi, kekayaan alam, dan kependudukan dan lima aspek sosial (panca gatra) yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan berpedoman pada wawasan nasional. Wawasan nusantara merupakan cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Wawasan nusantara juga merupakan sumber utama dan landasan yang kuat dalam menyelenggarakan kehidupan nasional sehingga wawasan nusantara dapat disebut sebagai wawasan nasional dan merupakan landasan ketahanan nasional.
2.3 Asas-Asas Ketahanan Nasional Indonesia
Asas Ketahanan Nasional Indonesia dapat dipahami sebagai tata laku yang didasari nilai-nilai yang tersusun berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan Wawasan Nusantara, yang terdiri dari (Zidni, 2010):
a. Asas Kesejahteraan dan Keamanan
Pada asas ini dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan dan merupakan kebutuhan manusia yang mendasar serta esensial, baik sebagai perorangan maupun kelompok dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian kesejahteraan dan keamanan merupakan asas dalam Sistem Kehidupan Nasional. Tanpa kesejahteraan dan keamanan, Sistem Kehidupan Nasional tidak akan dapat berlangsung, sehingga kesejahteraan dan keamanan yang merupakan nilai instrinsik pada Sistem Kehidupan nasional itu sendiri sulit diwujudkan. Dalam realisasinya kondisi kesejahteraan dan keamanan dapat dicapai dengan menitikberatkan pada kesejahteraan, tetapi tidak berarti mengabaikan keamanan. Sebaliknya memberikan prioritas pada keamanan tidak boleh mengabaikan kesejahteraan. Baik kesejahteraan maupun keamanan harus selalu ada, berdampingan pada kondisi apapun.
b. Asas Komprehensif Integral atau Menyeluruh Terpadu
Sistem kehidupan nasional mencakup segenap aspek kehidupan bangsa secara utuh menyeluruh dan terpadu dalam bentuk perwujudan persatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi, dan selaras dari seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian Ketahanan Nasional mencakup ketahanan segenap aspek kehidupan bangsa secara utuh, menyeluruh dan terpadu (komprehensif integral).
c. Asas Mawas Ke Dalam dan Mawas Ke Luar
Sistem kehidupan nasional merupakan perpaduan segenap aspek kehidupan bangsa yang saling berinteraksi. Disamping itu, system kehidupan nasional juga berinteraksi dengan lingkungan sekelilingnya. Dalam proses interaksi tersebut dapat timbul berbagai dampak, baik yang bersifat positif maupun negatif. Untuk itu diperlukan sikap mawas ke dalam maupun ke luar, mencakup perilaku:
(1) Mawas Ke Dalam
Mawas ke dalam bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat dan kondisi kehidupan nasional itu sendiri berdasarkan nilai-nilai kemandirian yang proporsional untik meningkatkan kualitas derajat kemampuan bangsa yang ulet dan tangguh. Hal ini tidak berarti bahwa Ketahanan nasional mengandung sikap isolasi atau nasionalisme sempit.
(2) Mawas Ke Luar
Mawas ke luar bertujuan untuk dapat mengantisipasi, dan ikut berperan serta menghadapi dan mengatasi dampak lingkungan strategis luar negeri, serta menerima kenyataan adanya saling interaksi dan ketergantungan, dengan dunia internasional. Untuk menjamin kepentingan nasional, kehidupan nasional harus mampu mengembangkan kekuatan nasional, agar memberikan dampak keluar dalam bentuk daya tangkal dan daya tawar. Namun demikian, interaksi dengan pihak lain diuatamakan dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.
d. Asas Kekeluargaan
Asas kekeluargaan mengandung keadilan, kearifan, kebersamaan, kesetaraan, gotong royong, tenggang rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam asas ini diakui adanya perbedaan dan perbedaan tersebut harus dikembangkan secara serasi dalam hubungan kemitraan, serta dijaga agar tidak berkembang menjadi konflik yang bersifat antagonistik yang saling menghancurkan.
2.4 Aspek-aspek Ketahanan Nasional Indonesia Pada Kehidupan Bernegara
Ketahanan nasional merupakan gambaran dari kondisi sistem (tata) kehidupan nasional dalam berbagai aspek pada saat tertentu. Tiap-tiap aspek relatif berubah menurut waktu, ruang dan lingkungan terutama pada aspek-aspek dinamis sehingga interaksinya menciptakan kondisi umum yang sulit dipantau karena sangan komplek.
Konsepsi ketahanan nasional akan menyangkut hubungan antar aspek yang mendukung kehidupan, yaitu:
1. Aspek alamiah (Statis), meliputi :
a) Geografi
b) Kependudukan
c) Sumber kekayaan alam
2. Aspek sosial (Dinamis), meliputi :
a) Aspek Ekonomi
Ketahanan Ekonomi diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan perekonomian bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung untuk menjamin kelangsungan perekonomian bangsa dan negara berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
b) Aspek Sosial Budaya
Ketahanan sosial budaya diartikan sebagai kondisi dinamis budaya Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan sosial budaya.
c) Aspek Pertahanan dan Keamanan
Ketahanan pertahanan dan keamanan diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan pertahanan dan keamanan bangsa Indonesia mengandung keuletan, ketangguhan, dan kemampuan dalam mengembangkan, menghadapi dan mengatasi segala tantangan dan hambatan yang datang dari luar maupun dari dalam yang secara langsung maupun tidak langsung membahayakan identitas, integritas, dan kelangsungan hidup bangsa dan negara Kesatuan Republik Indonesia.
d) Aspek Politik
Ketahanan pada aspek politik diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan politik bangsa Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung untuk menjamin kelangsungan kehidupan politik bangsa dan negara Republik Indonesia berdasar Pancasila dan UUD 1945.
e) Aspek Ideologi
Dapat diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan ideologi bangsa Indonesia. Ketahanan ini diartikan mengandung keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan ideologi bangsa dan negara Indonesia.
2.5 Tinjauan Terhadap Ketahanan Nasional Dari Aspek Trigatra, Pancagatra, dan hubungan antargatra.
Konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan terpadu berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dan wawasan nusantara dengan kata lain konsepsi ketahanan nasional merupakan pedoman untuk meningkatkan keuletan dan ketangguhan bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dengan pendekatan kesejahteraan dan keamanan. Kesejahteraan dapat digambarkan sebagai kemampuan bangsa dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai nasional sebesar-besarnya demi kemakmuran yang adil dan merata, rohaniah dan jasmaniah. Sedangkan keamanan adalah kemampuan bangsa melindungi nilai-nilai nasional terhadap ancaman dari luar maupun dari dalam (Yahya, Nursidik, 2008). Berdasarkan pengertian konsep ketahanan nasional, seluruh aspek kehidupan nasional dirinci dengan sistematika ASTAGATRA atau delapan aspek yang terdiri dari TRIGATRA atau tiga aspek alamiah dan PANCAGATRA atau lima aspek sosial (Kansil, 2008).
Aspek Trigatra
a. Geografi
Lokasi dan posisi geografis suatu negara memberikan gambaran tentang bentuknya, baik kedalam maupun keluar. Bentuk kedalam menampakkan corak wujud, isi dan tata susunan wilayah negara. Sedangkan bentuk keluar menentukan situasi dan kondisi lingkungan serta hubungan timbal balik antara negara dan lingkunganya. Bentuk negara baik kedalam maupun keluar dalam pengertian geografis selain bermakna sebagai wadah dan ruang hidup bagi bangsa yang mendiaminya, sekaligus mempengaruhi wujud isi dan kehidupan bangsa, namun sebaliknya, kehidupan bangsa dapat mempengaruhi lingkungannya. Lokasi dan posisi geografi wilayah indonesia dalam peta dunia merupakan negara kepulauan, yang terdiri dari perairan dan aratan dengan perbandingan 3:2 serta letaknya diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Hindia dan Pasifik).
b. Keadaan Alam Dan Sumber Kekayaan Alam
Kekayaan alam suatu negara meliputi segala sumber dan potensi alam yang terdapat di dirgantara, permukan bumi termasuk laut dan perairan di permukaan bumi, oleh karena itu setiap negara berhak untuk memanfaatkan kekayan alamnya berdasarkan asas maksimal, lestari dan berdaya saing.
Jika digolangkan dari segi sifatnya, kekayaan alam dapat dibedkan menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Kekayaan alam yang dapat diperbaharui
2. Kekayaan alam yang tidak dapat diperbaharui
3. Kekayaan alam yang tetap
c. Penduduk
Penduduk adalah orang atau manusia yang mendiami atau bertempat tinggal disuatu tempat atau wilayah. Analisis kependudukan berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, politik maupun pertahanan keamanan, sebagai akibat dari adanya perubahan jumlah, komposisi, persebaran maupun kualitas penduduk. Faktor-faktor yang mempengaruhi kependudukan yaitu:
Jumlah dan komposisi penduduk yang setiap saat dapat berubah karena disebabkan bekerjanya tiga variabel utama yaitu fertilitas, mortalias dan migrasi.
Pengaruh fertilitas dan mortalitas terhadap perubahan jumlah dan komposisi penduduk dapat bersifat sebagai berikut:
Bila tingkat fertilitas dan mortalitas sama tinggi maka jumlah dan komposisi penduduk akan sangat lamban perubahannya, bila tingkat fertilitas dan mortalits sama rendah maka jumlah dan komposisi penduduk juga tidak bayak mengalami perubahan. Bila fertilitas tinggi sedangkan mortalitas menurun dengan cepat atau rendah maka jumlah dan komposisi peduduk akan mengalami perubahan cepat. Bila fertilitas rendah sedangkan mortalitas tinggi maka jumlah dan komposisi peduduk juga akan mengalami prubahan besar (namun hal ini jarang terjadi).
Jumlah dan komposisi penduduk dipengaruhi oleh bekerjanya variabel demografis
Masalah-masalah kependudukan di Indonesia itu dewasa ini pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
1. Laju petumbuhan penduduk yang pesat terjadi sejak awal abad 20 yang lalu yang disebabkan oeh menurunnya tingkat mortalitas dengan pesat.
2. Persebaran penduduk indonesia yang tidak merata atau berimbang, hal ini akan berdampak terhadap pemerataan pembangan dan kesejahteraan ekonomi dan sosial penduduk.
Jika dikaitkan dengan ketahanan nasional laju ketahanan penduduk dapat memberi arti yang positif bila dikaitkan dengan kesediaan dan angkatan kerja, hal ini dapat membuat ketahanan nasional.
Aspek Pancagatra
a. Gatra Ideologi
Ideologi secara formal berarti, sekumpulan gagasan yang sistematik, secara umum ideologi berarti seperangkat nilai yang diyakini kebenarannya dan digunakan sebagai dasar menata masyarakat dalam bernegara. Ketahanan nasioal Indonesia dibidang ideologi adalah kondisi dinamik bangsa Indonesia yang berisi keuletan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan serta gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam yang lngsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan hidup ideologi bangsa dan negara republik Indonesia. Ideologi harus mengandung tiga dimensi sebagai berikut:
- Dimensi realitas yaitu ideologi harus dapat mencerminkan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat.
- Dimensi idealisme yaitu ideologi harus mampu memberikan harapan kepada berbagai kelompok dalam masyarakat untuk membina kehidupan bersama secara lebih baik.
- Dimensi Fleksibelitas yaitu kemampuan suatu ideologi dalam mempengaruhi dan sekaligus menyesuaikan diri dengan pertumbuhan atau perkembangan masyarakat.
Pancasila memang telah memilliki ketiga dimensi tersebut di atas, hanya saja keadarnya masih belum begitu tampak. Untuk memperoleh ketahanan di bidang ideologi ini dapat ditempuh beberapa langkah sebagai berikut :
- Memupuk identitas nasional berdasarkan Demokrasi Pancasila meliputi menciptakan sistem masyarakat yang bersemangat kekeluargaan, menciptakan sistem pemerintahan yang didasarkan pada kerakyatan dan permusyawaratan.
- Memelihara kesatuan nasional sesuai jiwa Wawasan Nusantara dengan memecahkan antara lain persoalan-persoalan keadilan sosial seperti: menentukan beberapa persen dari pendapatan nasional ditujukan untuk akumulasi modal dan beberapa persen untuk konsumsi.
- Meningkatkan motivasi nasional dengan cara memecahkan persoalan-persoalan berikut: Bagaimana dilakukan bimbingan kepada seluruh rakyat agar selalu melihat keadaan lingkungannya secara inovatif dan responsif.
Ada berbagai faktor yang mempengaruhi ketahaan nasional di bidang ideology, yaitu:
1. Kemajemukan masyarakat indonesia
2. Perkembangan dunia
3. Kepemimpinan
4. Pembangunan nasional.
b. Gatra Politik
Ketahanan Nasional Indonesia di bidang politik diartikan sebagai kondisi dinamik bangsa Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan serta gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan politik bangsa dan negara republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Politik di sini diartikan segenap kegiatan yang berpengaruh dan berarti terhadap penetapan alokasi nilai yang meningkat. Upaya untuk meningkatkan ketahanan politik dapat ditempuh dalam dua tahap yaitu jangka pendek dan jangka panjang.
Pembinaan jangka pendek di bidang politik dapat dilakukan dengan tindakan sebagai berikut:
- Meningkatkan administrasi pemerintahan guna mencapai efisiensi dan ekonomi dalam pembangunan nasional.
- Meningkatkan pembinaan generasi muda dengan menghubungkan secara konseptual peranan pemuda dengan tujuan pembangunan, dengan memperhitungan segala tantangan-tantangannya.
- Meningkatkan pembinaan kaum cendekiawan
- Peningkatan pembinaan demobilisan dengan cara mengeluarkan kebijaksanaan di bidang investasi dan employment, misalnya penyiapan para demobilisan untuk menuju ketahanan desa dalam sistem Hankamrata.
- Pemeliharaan iklim kehidupan politik yang baik untuk mencegah timbulnya oposisi yang tidak wajar, dengan cara mengembangkan release techniques tanpa membuka peluang bagi timbulnya liberalisme.
- Perjuangan di forum internasional
Pembinaan jangka panjang, kita harus melihat masalah-masalah lebih mendasar lagi. Bila sistem politik tidak dapat mempertahankan kecenderungan alamiah untuk hidup, maka ia akan dapat menumbuhkan ketegangan-ketegangan dalam segala nuansanya. Walaupun demikian justru unsur dinamik dari padanya adalah kemampuannya untuk tumbuh agar perubahan-perubahan terakomodasi dalam proses politik.
Dalam hubungan ini perlu dikemukakan tiga citra dalam pembangunan politik yaitu:
- Masalah yang berkaitan dengan budaya politik
- Masalah yang berkaitan dengan struktur politik
- Masalah yang berkaitan dengan proses politik
Dalam pembinaan jangka panjang tersebut stabilitas yang ingin dicapai adalah kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa serta tumbuhnya kehidupan konstitusional, demokratik dan berdasarkan hukum.
Pemikiran pembangunan politik harus dilaksanakan melalui berbagai dimensi yang berkaitan sebagai berikut:
- Dimensi Filosofik- ideologik, ini berkaitan dengan pengertian sebenarnya dari pandangan hidup, pandangan dunia dan dasar negara.
- Dimensi Stabilitas politik yang dinamik, ini berkaitan dengan usaha untuk menumbuhkan sistem politik demokrasi Pancasila melalui usaha peningkatan partisipasi politik warga negara yang harus diseimbangkan dengan tata-laku politik penguasa yang selaras serta dalam batas-batas toleransi konsensus nasional.
- Dimensi Partisipasi Politik Masyarakat, ini merupakan hal-hal yang berkaitan dengan anggota masyarakat yang menjadi pendukung dari sistem politik itu sendiri.
- Dimensi Keseimbangan Politik, Administrasi dan Hukum, ini bertalian dengan kelembagaan politik bangunan atas dan bawah.
- Dimensi perubahan, ini berkaitan dengan proses perubahan yang sedang dialami masyarakat Indonesia dewasa ini yang disebabkan karena usaha pembangunan berencana maupun sebagai akibat dari hubungan dengan pihak luar karena keterbukaan dalam rangka modernisasi.
Politik dalam negeri adalah kehidupan politik dan kenegaraan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang disebut sebagai demokrasi Pancasila. Sementara itu politik luar negeri merupakan salah satu sarana pencapaian kepentingan nasional dalam hubungan antar bangsa. Jika dilihat dari peranannya, maka politik luar negeri Indonesia sebagai komponen strategi bangsa merupakan proyeksi kepentingan ke dalam kehidupan antar bangsa dalam rangka pencapaian tujuan nasional.
c. Gatra Ekonomi
Kegiatan ekonomi adalah kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa, usaha untuk meningkatkan taraf hidup, masyarakat baik secara individu maupun kelompok. Adapun faktor eksternal maupun internal yang secara subjektif berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi suatu negara adalah (Landrawan, 2007):
1. Sifat keterbukaan ekonomi
2. Struktur ekonomi
3. Potensi dan pengelolaan sumber alam
4. Potensi dan pengelolaan sumber daya manusia
5. Teknologi
6. Birokrasi dan sikap masyarakat
7. Manajemen
8. Infrastruktur
9. Hubungan ekonomi luar negeri
10. Diversifikasi pemasaran
Pertumbuhan ekonomi perlu dikejar guna meningkatkan pendapatan nasional yang pada gilirannnya dapat meningkatkan konsumsi dan investasi untuk pertumbuhan lebih lanjut. Peningkatan konsumsi antara lain dapat digunakan untuk meningkatkan pendapatan per kapita dan untuk menigkatkan kadar gatra-gatra yang lain. Masalah-masalah yang perlu mendapat perhatian dalam pembinaan ekonomi adalah sebagai berikut:
- Meningkatkan produksi dan industri nasional yang konsisten dengan bidang-bidang lain seperti pembangunan wilayah dan penyebaran penduduk.
- Meningkatkan pembinaan wiraswasta pribumi.
- Meningkatkan oto-aktivitas masyarakat.
- Perbaikan sistem jasa dengan fokus penyempurnaan sistem birokrasi prusahaan-perusahaan pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
- Perbaikan sistem pajak dan cara penarikannya.
d. Ketahanan Sosial- Budaya
Masyarakat adalah kehidupan bersama yang diorganisasikan. Dalam hubungan ini masyarakat dapat diartikan sebagai jaringan hubungan antar manusia, yang meliputi tatanan- tatanan sosial. Kehidupan masyarakat memperlihatkan segala aspek interaksi sosial, sedangkan kehidupan budaya memperlihatkan segala hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Atas dasar kenyataan–kenyataan tersebut maka gatra sosial - budaya memainkan peranan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan Tannas, karena akhirnya efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program pembangunan untuk meningkatkan Tannas sebagian besar bergantung pada daya–dukung masyarakat, baik secara fisik maupun mental.
Kehidupan sosial budaya bangsa negara Indonesia adalah kehidupan yang meyangkut aspek kemasyarakatan dan kebudayaan yang dijiwai oleh falsafah Pancasila. Esensi pengaturan dan penyelenggaraan sosial budaya bangsa Indonesia adalah mengembangkan kondisi sosial budaya, sehhingga setiap warga masyarakat dapat merealisasikan pribadi dan segenap potensi manusiawinya yang dilandasi nilai-nilai Pancasila.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan di bidang sosial budaya dapat bersumber dari spek-aspek lain dari luar sosial budaya, berupa nilai dan sistem nilai di luar Pancasila dan UUD 1945 yang ada dan tumbuh berkebang di Indonesia, maupun sebagai hasil dari proses perubahan sosial budaya dan dampak dari pembangunan. Faktor-faktor yaitu agama, tradisi, serta pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam negara yang sedang berkembang, di mana modal dan tenaga terdidik masih langka. Penggunaan hasil dan teknologi modern masih terbatas secara kualitatif, maka partisipasi masyarakat dalam pembangunan untuk meningkatkan Tannas sangat diharapkan. Dengan cara demikian sekaligus pengangguran dapat dikurangi dan produksi ditingkatkan, terutama di daerah pedesaan. Adapun strategi yang perlu dilakukan dalam gatra sosial- budaya ini adalah sebagai berikut:
- Mengadakan pembaharuan teknoogi dengan cara pemindahan teknologi dari negara yang sudah maju dalam bentuk transplalasi dari lingkungan asalnya, baik yang berupa metode ilmiah maupun yang berupa data manusiawi.
- Mengembangkan program pendidikan tenaga kerja pembangunan yang dimulai dari usaha untuk menciptakan swasembada pedesaan.
e. Gatra Pertahanan Keamanan
Dalam pembinaan gatra militer/Hankam perlu dikemukakan kerangka pemikiran yang meliputi premis-premis, asas-asas untuk pengembangan kekuatan Hankam, dinamika politik dan strategi.
Adapun premis-premis yang perlu diperhatikan dalam gatra militer/ Hankam ini adalah sebagai berikut:
- Dokrin dan struktur Hankam harus berkaitan dengan tujuan nasioanal.
- Jumlah penduduk Indonesia cukup besar, tetapi masih dalam kualitas yang belum memadai.
- Dalam waktu dekat, apabila terjadi perang, kita tidak mempunyai pilihan untuk mengalahkan lawan secara mutlak.
- Apabila ”penghancuran lawan” dan ”penguasaan wilayah” selalu menjadi sasaran Hankam maka berdasarkan kemampuan kita dewasa ini guna memperoleh keuntungan strategik, kita lebih baik memilih sasaran ”penghancuran lawan”.
- Kita harus dapat memanfaatkan kondisi geografik kita untuk memperoleh keuntungan strategik dengan cara melakukan pertahanan ketat diseluruh wilayah Negara R.I.
Adapun asas-asas untuk pengembangan kekuatan Hankam adalah sebagai berikut:
- ABRI harus berusaha mencapai superioritas kualitatif, yaitu dalam moral, motivasi, ilmu dan teknologi, profesi dan orginalitas pemikiran.
- Eksploitasi penuh sumber daya nasional untuk program Hankam diwaktu perang dengan modus bangsa berssenjata dalam pertahanan wilayah.
- Pengembangan kekuatan Hankam yang bukan untuk otensif agar tidak dikhawatirkan oleh negara-negara tetangga.
- Pengembangan sistem pengindera-keputusan yang efektif untuk memungkinkan pengerahan cadangan nasional pada waktu diperlukan.
- Usaha swa-sembada dibidang peralatan dan prasenjata untuk menghindari interversi asing, karena hal ini akhirnya akan menjurus ke arah dominasi.
- Menciptakan kedalaman strategik dengan cara pertahanan wilayah.
Dalam melaksanakan pengembangan kekuatan bersenjata itu harus selalu mempertimbangan politik luar negeri yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
- Menggerakkan dinamika politik untuk mencegah serangan lawan.
- Memaksa lawan untuk berperang dengan pihak lain.
- Hubungan internasional kita harus dijabarkan dari situasi konflik antara Pancasila dengan ideologi-ideologi tandingan seperti ideologi PKI dan ideologi ekstrim- ekstrim lainnya (Soewarso, 1984).
Hubungan Antar Gatra
Hubungan antar gatra baik dalam tri gatra maupun panca gatra merupakan hubungan timbal balik yang erat dan kait-mengkait secara menyeluruh, dalam arti saling mempengaruhi, kertergantungan yang serasi dan seimbang. Dengan demikian maka peubahan di salah satu gatra akan berpengaruh terhadap gatra lainnya.
1. Hubungan Antar Gatra dalam Tri Gatra
a. Gatra geografi dan kekayaan alam. Situasi dan kondisi geografis sangat mempengaruhi jenis, kualitas, kuantitas dan persebaran kekayaan alam, dan sebaliknya kekayaan alam dapat mempengaruhi kondisi (karakter) geografi.
b. Gatra geografi dan kependudukkan. Bentuk-bentuk kehidupan dan penduduk dipengaruhi oleh jenis, kualitas, kuantitas dan persebaran kekayaan alam, dan sebaliknya. Kekayaan alam mempunyai manfaat jika telah diolah oleh penduduk yang telah memiliki IPTEK.
2. Hubungan Antar Gatra dalam Panca Gatra
a. Gatra ideologi dengan gatra lainnya. Ideologi sebagai falsafah atau pandagan hidup bangsa dan landasan idiil negara merupakan nilai penentu dan menjadi landasan bagi norma-norma kehidupan nasional yang meliputi seluruh gatra dalam panca gatra dalam rangka memelihara kehidupan bangsa dan pencapaian tujuan nasional.
b. Gatra politik dengan gatra lainnya. Kehidupan politik nasional pada dasarnya dilandasi oleh ideologi bangsa yang dipengaruhi oleh kehidupan ekonomi, sosial budaya dan ditunjang oleh situasi pertahanan dan keamanan selain itu juga dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan dan kesadaran berpolitik bangsa, tingkat kemakmuran ekonomi, sistem nilai sosial budaya.
c. Gatra ekonomi dengan gatra lainnya. Kehidupan ekonomi dilandasi oleh ideologi bangsa dipengaruhi pula oleh kehidupan politik nasional, situasi sosial budaya dan situasi kemananan. Sebaliknya situasi ekonomi yang kacau akan membawa situasi buruk pada kehidupan ideologi, politik, dan sosial budaya maupun kemananan. Namun, jika situasi ekonomi stabil dan maju akan dapat menunjang stabilitas dan peningkatan ketahanan dibidang lainnya.
d. Gatra sosial budaya dengan gatra lainnya. Kehidupan sosial budaya merupakan pengejawantahan ideologi atau pandangan hidup bangsa, serta dipengaruhi oleh kehidupan politik, ekonomi dan situasi keamanan.
e. Gatra pertahanan dan kemananan dengan gatra lainnya. Situasi kemananan sangat ditunjang oleh kemantapan ideologi bangsa, kondisi politik, kehidupan ekonomi, dan sosial budaya.
3. Hubungan antara Tri Gatra dengan Panca Gatra
a. Ketahanan nasional pada hakekatnya bergantung pada kemampuan dan keuletan bangsa dan negara dalam memanfaatkan aspek alamiah sebagai dasar penyelengaraan kehidupan nasional disegala bidang.
b. Ketahanan nasional adalah suatu pengertian holistik dimana terdapat hubungan antar gatra dalam keseluruhan kehidupan nasional.
c. Kelemahan pada salah satu aspek berakibat muncul kelamahan pada bidang lain dan berpengaruh pada kondisi keseluruhan.
d. Ketahanan nasional bukan merupakan kondisi hasil penjumlahan dari ketahanan bidang disegenap gatranya, melainkan merupakan resultante keterkaitan yang integratif dari kondisi-kondisi kehidupan bangsa dibidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan.
2.6 Pendekatan Kesejahteraan dan Keamananan dalam Konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia
Dalam sebuah catatan mengenai Ketahanan nasional, disebutkan bahwa konsepsi ketahanan nasional Indonesia menggunakan pendekatan kesejahteraan dan keamanan. Penyelenggaraan kesejahteraan memerlukan tingkat keamanan tertentu, dan sebaliknya penyelenggaraan keamanan memerlukan tingkat kesejahteraan tertentu. Tanpa kesejahteraan dan keamanan, sistem kehidupan nasional tidak akan dapat berlangsung karena pada dasarnya keduanya merupakan nilai intrinsik yang ada dalam kehidupan nasional. Konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan terpadu berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dan wawasan nusantara (Ardiabara, 2009).
Dengan kata lain konsepsi ketahanan nasional merupakan pedoman untuk meningkatkan keuletan dan ketangguhan bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dengan pendekatan kesejahteraan dan keamanan. Kesejahteraan dapat digambarkan sebagai kemampuan bangsa dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai nasionalnya demi sebesar-besarnya kemakmuran yang adil dan merata, rohaniah dan jasmaniah. Sedangkan keamanan adalah kemampuan bangsa melindungi nilai-nilai nasional terhadap ancaman dari luar maupun dari dalam.
Dengan demikian, kedua pendekatan tersebut merpakan dua hal yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Penyelenggaraan kesejahteraan memerlukan tingkat keamanan tertentu, sebaliknya penyelenggaraan keamanan memerlukan tingkat kesejahteraan tertentu. Sehingga penyelenggaraan ketahanan nasional menghasilkan gambaran kesejahteraan dan sekaligus pula gambaran keamanan.
Dalam kehidupan kenegaraan, tingkat kesejahteraan dan keamanan nasional merupakan tolak ukur ketahanan nasional. Peran masing-masing gatra dalam astagrata seimbang dan saling mengisi. Maksudnya antargatra mempunyai hubungan yang saling terkait dan saling bergantung secara utuh menyeluruh membentuk tata laku masyarakat dalam kehidupan nasional. Dalam hal ini, ketahanan nasional memiliki beberapa sifat yang melandasinya untuk tetap memberikan kontribusi konstruktif bagi Indonesia. Sifat – sifat tersebut antara lain tercermin dari beberapa hal di bawah ini, antara lain (Ardiabara, 2009):
1. Mandiri, artinya ketahanan nasional bersifat percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri dengan keuletan dan ketangguhan yang mengandung prinsip tidak mudah menyerah serta bertumpu pada identitas, integritas, dan kepribadian bangsa. Kemandirian ini merupakan prasyarat untuk menjalin kerja sama yang saling menguntungkan dalam perkembangan global.
2. Dinamis, artinya ketahanan nasional tidaklah tetap, melainkan dapat meningkat ataupun menurun bergantung pada situasi dan kondisi bangsa dan negara, serta kondisi lingkungan strategisnya. Hal ini sesuai dengan hakikat dan pengertian bahwa segala sesuatu di dunia ini senantiasa berubah. Oleh sebab itu, upaya peningkatan ketahanan nasional harus senantiasa diorientasikan ke masa depan dan dinamikanya di arahkan untuk pencapaian kondisi kehidupan nasional yang lebih baik.
3. Manunggal, artinya ketahanan nasional memiliki sifat integratif yang diartikan terwujudnya kesatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi, dan selaras di antara seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
4. Wibawa, artinya ketahanan nasional sebagai hasil pandangan yang bersifat manunggal dapat mewujudkan kewibawaan nasional yang akan diperhitungkan oleh pihak lain sehingga dapat menjadi daya tangkal suatu negara. Semakin tinggi daya tangkal suatu negara, semakin besar pula kewibawaannya.
5. Konsultasi dan kerjasama, artinya ketahanan nasional Indoneisa tidak mengutamakan sikap konfrontatif dan antagonis, tidak mengandalkan kekuasaan dan kekuatan fisik semata, tetapi lebih pada sifat konsultatif dan kerja sama serta saling menghargai dengan mengandalkan pada kekuatan moral dan kepribadian bangsa.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan dan pemaparan di atas maka dapat di tarik beberapa kesimpulan sebgai berikut.
3.1.1 Ketahanan Nasional Indonesia adalah kondisi dinamis suatu bangsa Indonesia yang meliputi segenap kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan ancaman, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun dari luar, untuk menjamin identitas, integritas, dan kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mencapai tujuan nasiona.
3.1.2 Ciri-ciri ketahanan nasional merupakan kondisi sebagai prasyarat utama bagi negara berkembang difokuskan untuk mempertahankan eksistensi dan mengembangkan kehidupan bangsa tidak hanya untuk pertahanan, tetapi juga untuk menghadapi dan mengatasi tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, baik secara langsung maupun tidak langsung, berisi keuletan dan ketangguhan dalam mengembangkan kekuatan nasional.
3.1.3 Adapun asas-asas Ketahanan Nasional yaitu asas kesejahteraan dan keamanan, asas komprehensif integral atau menyeluruh dan terpadu, asas mawas ke dalam dan mawas ke luar, dan asas kekeluargaan.
3.1.4 Ketahanan Nasional Indonesia mencakup dua aspek yaitu aspek alamiah dan sosial.
3.1.5 Tinjauan terhadap Ketahanan Nasional dari aspek trigatra dan pancagatra. Aspek tri gatra meliputi geografi, keadaan alam dan sumber kekayaan alam, serta penduduk sedangkan aspek panca gatra meliputi gatra ideologi, gatra politik, gatra ekonomi, ketahanan sosial- budaya, gatra pertahanan keamanan. Hubungan antar gatra baik dalam tri gatra maupun panca gatra merupakan hubungan timbal balik yang erat dan kait-mengkait secara menyeluruh, dalam arti saling mempengaruhi, kertergantungan yang serasi dan seimbang.
3.1.6 Penyelenggaraan ketahanan nasional menggunakan pendekatan kesejahteraan dan keamanan. Dimana tingkat kesejahteraan dan keamanan nasional merupakan tolak ukur ketahanan nasional.
3.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan yaitu kita sebagai warga negara indonesia hendaknya meningkatkan ketahanan nasional untuk mewujudkan masyarakat indonesia yang sejahtera dan aman
http://wienda-phy08.blogspot.com/2010/11/ketahanan-nasional.html
Selasa, 30 April 2013
Salah satu tokoh wayang
Hanoman
Hanoman (Sanskerta: हनुमान्; Hanumān) atau Hanumat (Sanskerta: हनुमत्; Hanumat), juga disebut sebagai Anoman, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putera Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, namun dalam pengembangannya tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh antar zaman. Di India, hanoman dipuja sebagai dewa pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya.
Kelahiran
Hanoman lahir pada masa Tretayuga sebagai putera Anjani, seekor wanara wanita. Dahulu Anjani sebetulnya merupakan bidadari, bernama Punjikastala. Namun karena suatu kutukan, ia terlahir ke dunia sebagai wanara wanita. Kutukan tersebut bisa berakhir apabila ia melahirkan seorang putera yang merupakan penitisan Siwa. Anjani menikah dengan Kesari, seekor wanara perkasa. Bersama dengan Kesari, Anjani melakukan tapa ke hadapan Siwa agar Siwa bersedia menjelma sebagi putera mereka. Karena Siwa terkesan dengan pemujaan yang dilakukan oleh Anjani dan Kesari, ia mengabulkan permohonan mereka dengan turun ke dunia sebagai Hanoman.Salah satu versi menceritakan bahwa ketika Anjani bertapa memuja Siwa, di tempat lain, Raja Dasarata melakukan Putrakama Yadnya untuk memperoleh keturunan. Hasilnya, ia menerima beberapa makanan untuk dibagikan kepada tiga istrinya, yang di kemudian hari melahirkan Rama, Laksmana, Bharata dan Satrugna. Atas kehendak dewata, seekor burung merenggut sepotong makanan tersebut, dan menjatuhkannya di atas hutan dimana Anjani sedang bertapa. Bayu, Sang dewa angin, mengantarkan makanan tersebut agar jatuh di tangan Anjani. Anjani memakan makanan tersebut, lalu lahirlah Hanoman.
Sebagai putera Anjani, Hanoman dipanggil Anjaneya (diucapkan "Aanjanèya"), yang secara harfiah berarti "lahir dari Anjani" atau "putera Anjani".
Masa kecil
Pada saat Hanoman masih kecil, ia mengira matahari adalah buah yang bisa dimakan, kemudian terbang ke arahnya dan hendak memakannya. Dewa Indra melihat hal itu dan menjadi cemas dengan keselamatan matahari. Untuk mengantisipasinya, ia melemparkan petirnya ke arah Hanoman sehingga kera kecil itu jatuh dan menabrak gunung. Melihat hal itu, Dewa Bayu menjadi marah dan berdiam diri. Akibat tindakannya, semua makhluk di bumi menjadi lemas. Para Dewa pun memohon kepada Bayu agar menyingkirkan kemarahannya. Dewa Bayu menghentikan kemarahannya dan Hanoman diberi hadiah melimpah ruah. Dewa Brahma dan Dewa Indra memberi anugerah bahwa Hanoman akan kebal dari segala senjata, serta kematian akan datang hanya dengan kehendaknya sendiri. Maka dari itu, Hanoman menjadi makhluk yang abadi atau Chiranjiwin.Pertemuan dengan Rama
Saat bertemu dengan Rama dan Laksmana, Hanoman merasakan ketenangan. Ia tidak melihat adanya tanda-tanda permusuhan dari kedua pemuda itu. Rama dan Laksmana juga terkesan dengan etika Hanoman. Kemudian mereka bercakap-cakap dengan bebas. Mereka menceritakan riwayat hidupnya masing-masing. Rama juga menceritakan keinginannya untuk menemui Sugriwa. Karena tidak curiga lagi kepada Rama dan Laksmana, Hanoman kembali ke wujud asalnya dan mengantar Rama dan Laksmana menemui Sugriwa.
Petualangan mencari Sita
Dalam misi membantu Rama mencari Sita, Sugriwa mengutus pasukan wanara-nya agar pergi ke seluruh pelosok bumi untuk mencari tanda-tanda keberadaan Sita, dan membawanya ke hadapan Rama kalau mampu. Pasukan wanara yang dikerahkan Sugriwa dipimpin oleh Hanoman, Anggada, Nila, Jembawan, dan lain-lain. Mereka menempuh perjalanan berhari-hari dan menelusuri sebuah gua, kemudian tersesat dan menemukan kota yang berdiri megah di dalamnya. Atas keterangan Swayampraba yang tinggal di sana, kota tersebut dibangun oleh arsitek Mayasura dan sekarang sepi karena Maya pergi ke alam para Dewa. Lalu Hanoman menceritakan maksud perjalanannya dengan panjang lebar kepada Swayampraba. Atas bantuan Swayampraba yang sakti, Hanoman dan wanara lainnya lenyap dari gua dan berada di sebuah pantai dalam sekejap.Di pantai tersebut, Hanoman dan wanara lainnya bertemu dengan Sempati, burung raksasa yang tidak bersayap. Ia duduk sendirian di pantai tersebut sambil menunggu bangkai hewan untuk dimakan. Karena ia mendengar percakapan para wanara mengenai Sita dan kematian Jatayu, Sempati menjadi sedih dan meminta agar para wanara menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi. Anggada menceritakan dengan panjang lebar kemudian meminta bantuan Sempati. Atas keterangan Sempati, para wanara tahu bahwa Sita ditawan di sebuah istana yang teretak di Kerajaan Alengka. Kerajaan tersebut diperintah oleh raja raksasa bernama Rahwana. Para wanara berterima kasih setelah menerima keterangan Sempati, kemudian mereka memikirkan cara agar sampai di Alengka.
Pergi ke Alengka
Karena bujukan para wanara, Hanoman teringat akan kekuatannya dan terbang menyeberangi lautan agar sampai di Alengka. Setelah ia menginjakkan kakinya di sana, ia menyamar menjadi monyet kecil dan mencari-cari Sita. Ia melihat Alengka sebagai benteng pertahanan yang kuat sekaligus kota yang dijaga dengan ketat. Ia melihat penduduknya menyanyikan mantra-mantra Weda dan lagu pujian kemenangan kepada Rahwana. Namun tak jarang ada orang-orang bermuka kejam dan buruk dengan senjata lengkap. Kemudian ia datang ke istana Rahwana dan mengamati wanita-wanita cantik yang tak terhitung jumlahnya, namun ia tidak melihat Sita yang sedang merana. Setelah mengamati ke sana-kemari, ia memasuki sebuah taman yang belum pernah diselidikinya. Di sana ia melihat wanita yang tampak sedih dan murung yang diyakininya sebagai Sita.Kemudian Hanoman melihat Rahwana merayu Sita. Setelah Rahwana gagal dengan rayuannya dan pergi meninggalkan Sita, Hanoman menghampiri Sita dan menceritakan maksud kedatangannya. Mulanya Sita curiga, namun kecurigaan Sita hilang saat Hanoman menyerahkan cincin milik Rama. Hanoman juga menjanjikan bantuan akan segera tiba. Hanoman menyarankan agar Sita terbang bersamanya ke hadapan Rama, namun Sita menolak. Ia mengharapkan Rama datang sebagai ksatria sejati dan datang ke Alengka untuk menyelamatkan dirinya. Kemudian Hanoman mohon restu dan pamit dari hadapan Sita. Sebelum pulang ia memporak-porandakan taman Asoka di istana Rahwana. Ia membunuh ribuan tentara termasuk prajurit pilihan Rahwana seperti Jambumali dan Aksha. Akhirnya ia dapat ditangkap Indrajit dengan senjata Brahma Astra. Senjata itu memilit tubuh hanoman. Namun kesaktian Brahma Astra lenyap saat tentara raksasa menambahkan tali jerami. Indrajit marah bercampur kecewa karena Brahma Astra bisa dilepaskan Hanoman kapan saja, namun Hanoman belum bereaksi karena menunggu saat yang tepat.
Terbakarnya Alengka
Ketika Rahwana hendak memberikan hukuman mati kepada Hanoman, Wibisana membela Hanoman agar hukumannya diringankan, mengingat Hanoman adalah seorang utusan. Kemudian Rahwana menjatuhkan hukuman agar ekor Hanoman dibakar. Melihat hal itu, Sita berdo'a agar api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Karena do'a Sita kepada Dewa Agni terkabul, api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Lalu ia memberontak dan melepaskan Brahma Astra yang mengikat dirinya. Dengan ekor menyala-nyala seperti obor, ia membakar kota Alengka. Kota Alengka pun menjadi lautan api. Setelah menimbulkan kebakaran besar, ia menceburkan diri ke laut agar api di ekornya padam. Penghuni surga memuji keberanian Hanoman dan berkata bahwa selain kediaman Sita, kota Alengka dilalap api.Dengan membawa kabar gembira, Hanoman menghadap Rama dan menceritakan keadaan Sita. Setelah itu, Rama menyiapkan pasukan wanara untuk menggempur Alengka
Pertempuran besar
Kehidupan selanjutnya
Setelah pertempuran besar melawan Rahwana berakhir, Rama hendak memberikan hadiah untuk Hanoman. Namun Hanoman menolak karena ia hanya ingin agar Sri Rama bersemayam di dalam hatinya. Rama mengerti maksud Hanoman dan bersemayam secara rohaniah dalam jasmaninya. Akhirnya Hanoman pergi bermeditasi di puncak gunung mendo'akan keselamatan dunia.Pada zaman Dwapara Yuga, Hanoman bertemu dengan Bima dan Arjuna dari lingkungan keraton Hastinapura. Dari pertemuannya dengan Hanoman, Arjuna menggunakan lambang Hanoman sebagai panji keretanya pada saat Bharatayuddha.
Tradisi dan pemujaan
Di negara India yang didominasi oleh agama Hindu, terdapat banyak kuil untuk memuja Hanoman, dan dimana pun ada gambar awatara Wisnu, selalu ada gambar Hanoman. Kuil Hanoman bisa ditemukan di banyak tempat di India dan konon daerah di sekeliling kuil itu terbebas dari raksasa atau kejahatan.Beberapa kuil Hanoman yang terkenal adalah:
- Puncak monyet, Himachal Pradesh, India.
- Kuil Jhaku, Himachal Pradesh, India.
- Kuil Sri Suchindram, Tamilnadu, India.
- Sri Hanuman Vatika, Orissa, India.
- Kuil Saakshi Hanuman, Tamilnadu, India.
- Shri Krishna Matha (Kuil Krishna), Udupi.
- Krishnapura Matha, Krishnapura dekat Surathkal.
- Kuil Ragigudda Anjaneya, Jayanagar, Bangalore.
- Hanumangarhi, Ayodhya.
- Kuil Sankat Mochan, Benares.
- Kuil Hanuman, dekat Nuwara Eliya, Sri Lanka.
- Salasar Balaji, Distrik Churu, Rajasthan.
- Kuil Mehandipur Balaji, Rajasthan.
- Ada Balaji, di hutan suaka Sariska, Alwar, Rajasthan.
- Sebelas kuil Maruthi di Maharashtra.
- Kuil Shri Hanuman di Connaught Place, New Delhi.
- Shri Baal Hanumaan, Tughlak Road, New Delhi.
- Kuil Prasanna Veeranjaneya Swami, di Mahalakshmi Layout, Bangalore, Karnataka.
- Sri Nettikanti Anjaneya Swami Devasthanam, Kasapuram, Andhra Pradesh.
- Yellala Anjaneya Swami, Yellala, Andhra Pradesh.
- Pura Sri Mahavir, Patna, Bihar.
- Kuil Sri Vishwaroopa Anchaneya, Tamilnadu, India.
Hanoman dalam pewayangan Jawa
Kelahiran
Anjani adalah puteri sulung Resi Gotama yang terkena kutukan sehingga berwajah kera. Atas perintah ayahnya, ia pun bertapa telanjang di telaga Madirda. Suatu ketika, Batara Guru dan Batara Narada terbang melintasi angkasa. Saat melihat Anjani, Batara Guru terkesima sampai mengeluarkan air mani. Raja para dewa pewayangan itu pun mengusapnya dengan daun asam (Bahasa Jawa: Sinom) lalu dibuangnya ke telaga. Daun sinom itu jatuh di pangkuan Anjani. Ia pun memungut dan memakannya sehingga mengandung. Ketika tiba saatnya melahirkan, Anjani dibantu para bidadari kiriman Batara Guru. Ia melahirkan seekor bayi kera berbulu putih, sedangkan dirinya sendiri kembali berwajah cantik dan dibawa ke kahyangan sebagai bidadari.Mengabdi pada Sugriwa
Bayi berwujud kera putih yang merupakan putera Anjani diambil oleh Batara Bayu lalu diangkat sebagai anak. Setelah pendidikannya selesai, Hanoman kembali ke dunia dan mengabdi pada pamannya, yaitu Sugriwa, raja kera Gua Kiskenda. Saat itu, Sugriwa baru saja dikalahkan oleh kakaknya, yaitu Subali, paman Hanoman lainnya. Hanoman berhasil bertemu Rama dan Laksmana, sepasang pangeran dari Ayodhya yang sedang menjalani pembuangan. Keduanya kemudian bekerja sama dengan Sugriwa untuk mengalahkan Subali, dan bersama menyerang negeri Alengka membebaskan Sita, istri Rama yang diculik Rahwana murid Subali.Melawan Alengka
Pertama-tama Hanoman menyusup ke istana Alengka untuk menyelidiki kekuatan Rahwana dan menyaksikan keadaan Sita. Di sana ia membuat kekacauan sehingga tertangkap dan dihukum bakar. Sebaliknya, Hanoman justru berhasil membakar sebagian ibu kota Alengka. Peristiwa tersebut terkenal dengan sebutan Hanoman Obong. Setelah Hanoman kembali ke tempat Rama, pasukan kera pun berangkat menyerbu Alengka. Hanoman tampil sebagai pahlawan yang banyak membunuh pasukan Alengka, misalnya Surpanaka (Sarpakenaka) adik Rahwana.Tugas untuk Hanoman
Dalam pertempuran terakhir antara Rama kewalahan menandingi Rahwana yang memiliki Aji Pancasunya, yaitu kemampuan untuk hidup abadi. Setiap kali senjata Rama menewaskan Rahwana, seketika itu pula Rahwana bangkit kembali. Wibisana, adik Rahwana yang memihak Rama segera meminta Hanoman untuk membantu. Hanoman pun mengangkat Gunung Ungrungan untuk ditimpakan di atas mayat Rahwana ketika Rahwana baru saja tewas di tangan Rama untuk kesekian kalinya. Melihat kelancangan Hanoman, Rama pun menghukumnya agar menjaga kuburan Rahwana. Rama yakin kalau Rahwana masih hidup di bawah gencetan gunung tersebut, dan setiap saat bisa melepaskan roh untuk membuat kekacauan di dunia.Beberapa tahun kemudian setelah Rama meninggal, roh Rahwana meloloskan diri dari Gunung Ungrungan lalu pergi ke Pulau Jawa untuk mencari reinkarnasi Sita, yaitu Subadra adik Kresna. Kresna sendiri adalah reinkarnasi Rama. Hanoman mengejar dan bertemu Bima, adiknya sesama putera angkat Bayu. Hanoman kemudian mengabdi kepada Kresna. Ia juga berhasil menangkap roh Rahwana dan mengurungnya di Gunung Kendalisada. Di gunung itu Hanoman bertindak sebagai pertapa.
Anggota Keluarga
Berbeda dengan versi aslinya, Hanoman dalam pewayangan memiliki dua orang anak. Yang pertama bernama Trigangga yang berwujud kera putih mirip dirinya. Konon, sewaktu pulang dari membakar Alengka, Hanoman terbayang-bayang wajah Trijata, puteri Wibisana yang menjaga Sita. Di atas lautan, air mani Hanoman jatuh dan menyebabkan air laut mendidih. Tanpa sepengetahuannya, Baruna mencipta buih tersebut menjadi Trigangga. Trigangga langsung dewasa dan berjumpa dengan Bukbis, putera Rahwana. Keduanya bersahabat dan memihak Alengka melawan Rama. Dalam perang tersebut Trigangga berhasil menculik Rama dan Laksmana namun dikejar oleh Hanoman. Narada turun melerai dan menjelaskan hubungan darah di antara kedua kera putih tersebut. Akhirnya, Trigangga pun berbalik melawan Rahwana.Putera kedua Hanoman bernama Purwaganti, yang baru muncul pada zaman Pandawa. Ia berjasa menemukan kembali pusaka Yudistira yang hilang bernama Kalimasada. Purwaganti ini lahir dari seorang puteri pendeta yang dinikahi Hanoman, bernama Purwati.
Kematian
Hanoman berusia sangat panjang sampai bosan hidup. Narada turun mengabulkan permohonannya, yaitu "ingin mati", asalkan ia bisa menyelesaikan tugas terakhir, yaitu merukunkan keturunan keenam Arjuna yang sedang terlibat perang saudara. Hanoman pun menyamar dengan nama Resi Mayangkara dan berhasil menikahkan Astradarma, putera Sariwahana, dengan Pramesti, puteri Jayabaya. Antara keluarga Sariwahana dengan Jayabaya terlibat pertikaian meskipun mereka sama-sama keturunan Arjuna. Hanoman kemudian tampil menghadapi musuh Jayabaya yang bernama Yaksadewa, raja Selahuma. Dalam perang itu, Hanoman gugur, moksa bersama raganya, sedangkan Yaksadewa kembali ke wujud asalnya, yaitu Batara Kala, sang dewa kematian. ada versi lain khususnya di jawa bahwa hanoman tidak mati dalam dalam berperang namun dia moksa setelah bertemu sunan kali jaga dan menanyakan arti yang terkandung dari jimat kalimasada karena dulu hanoman berjanji tidak akan mau mati sebelum mengetahui arti dari tulisan yang terkandung di dalam jimat kalimasada.ref : http://id.wikipedia.org/wiki/Hanoman
Sang dukun santet
Kisah tragis sang dukun santet
Rumah besar di pinggir jalan raya itu, semua orang sudah tahu siapa pemiliknya. Orang-orang menyebut pemilik rumah lumayan bagus untuk ukuran desa itu mbah Dirgo. Entah itu sebutan atau nama asli sejak kecil. Yang jelas, mereka tahu bahwa mbah Dirgo adalah dukun kondang, yang pasiennya datang silih berganti, kebanyakan dari luar kota. Ada yang dari Blitar, Malang, Surabaya, Probolinggo, Trenggalek bahkan yang dari Jakarta dan luar Jawa ada juga yang datang minta bantuan mbah Dirgo.
Kemarin ada orang bertamu ke rumah mbah Dirgo. Dua orang, satu pria dan satunya lagi wanita. Mengendarai mobil merk terkenal dan keluaran tahun paling anyar. Pada salah seorang tetangga mbah Dirgo, keduanya mengaku berasal dari Semarang, Jawa Tengah.
"Benar ini kediaman mbah Dirgo?" Tanya tamu tadi kepada Lukman, tetangga dekat mbah Dirgo.
"Mbah Dirgo dukun serba bisa itu kan?" Lukman balik bertanya, ingin kepastian.
"Betul."
"Kalau itu yang sampeyan cari, rumah mbah Dirgo memang ini," Lukman menandaskan. Lelaki dua orang anak yang sehari-harinya pedagang buah di pasar Kalitalun itu lantas mempersilahkan tamunya masuk, karena Lukman telah membantu mengetukkan pintu rumah mbah Dirgo.
"Terima kasih, pak," ujar si tamu sambil memarkirkan mobilnya di halaman Barat rumah bercat serba kemerahan itu.
Seperti biasanya, mbah Dirgo tak terlalu lama melayani tamu dari Semarang tersebut. Ada banyak orang yang antri untuk ditangani oleh mbah Dirgo. Otomatis masing-masing tamu tak terpuji bila terlalu lama berada dalam kamar praktik mbah Dirgo yang konon sangat menyeramkan.
Menurut desas-desus yang merebak beberapa hari sesudahnya, tamu dari ibukota Jawa Tengah tempo hari itu minta jasa baik mbah Dirgo untuk melenyapkan saingan bisnisnya. Tangan mbah Dirgo yang terlalu gampang untuk membunuh dengan bantuan gaib ilmunya tersebut memang tempat sangat idel untuk keperluan itu. Buktinya, lawan bisnis Karsono, orang Semarang tadi, meninggal dunia dengan cara mengenaskan. Dulaman, musuh usaha Karsono, tertimpa batu sebesar kerbau manakala Dulaman sedang mengawasi kerja anak buahnya di sebuah pabrik pemecahan batu tak jauh dari rumahnya.
Sudah puluhan tahun mbah Dirgo memang terkenal sebagai dukun tenung. Profesi yang digelutinya secara turun temurun, paling tidak, almarhum mbah Dakip, orang tuanya dulu juga kondang sebagai dukun tenung.
Nasib baik masih selalu berada di belakang keluarganya, sebab setiap ada pihak yang mau menghabisi mbah Dirgo, dengan berbagai cara, tak ada yang pernah berhasil. Termasuk saat ramai-ramainya penculikan dukun tenung beberapa tahun silam, mbah Dirgo bisa selamat. Ilmu yang dimilikinya memang cukup ampuh dalam membentengi dirinya dari serangan orang yang tidak menyukai sepak terjangnya. Tak aneh bila lelaki berambut gondrong mirip mbah Surip itu semakin merasa tak tertandingi. Enath sudah berapa orang yang mati secara gaib lewat tangannya, hanya dirinya dan Allah saja yang mengetahui jumlah pastinya.
Sebagai seorang dukun senior, materi yang dikumpulkan dari uang kasih para pasiennya lumayan banyak. Rumahnya bagus, sawah, ladang ada di berbagai tempat. Di dalam daerah tempat tinggalnya mau pun di luar daerah. Jumlahnya bisa puluhan hektar plus tabungan di bank yang cukup menggiurkan jika ditunjukkan kepada orang lain.
Pekerjaan mbah Dirgo yang lain adalah tukang servis dan pendongkrak daya tarik bagi wanita-wanita nakal. Bila seorang wanita yang terjun di dunia kelam telah kurang diminati tamu langganan dan dia datang ke tempat praktek mbah Dirgo, dijamin beberapa hari kemudian wanita tadi pasti kebanjiran order. Tubuh wanita itu yang sebelumnya kusam dan tak mendatangkan selera, bisa kelihatan bahenol, sintal, cantik dan sangat mengundang birahi. Langganannya kembali datang, uang mengalir lagi. Aliran duit tersebut sebagian tentu mengarah ke rumah mbah Dirgo sebagai balas budi. Balas budi yang klimaksnya membikin kekayaan lelaki dengan dua orang isteri dan tiga orang anak tadi makin menggunung.
Untuk membuat makin tajam dan cespleng ilmunya, mbah Dirgo harus mengadakan ritual dan persembahan kepada gaib pembantunya. Diantara ritual tadi adalah meminum darah binatang, utamanya ayam berbulu hitam, berkulit legam. Orang sering menyebutnya dengan ayam cemani. Darah ayam model inilah yang pada saat-saat tertentu harus diminum olehnya. Semakin tak lalai melakukan ritual semakin ampuh dan berjaya ilmunya. Ini diyakini betul oleh mbah Dirgo selama ini.
Manusia, bagaimana juga, ada kalanya di atas, ada saatnya di bawah. Keinginan dan harapan bisa melaju terus tanpa batas, namun umur tidak akan bisa dibendung. Dari muda menjadi tua, tidak bisa dihindari. Demikian juga yang dialami mbah Dirgo. Tanpa disadari, dia sudah makin tak lincah gerak tangan, hentakan kaki dan desah nafasnya pun sudah tak berirama sempurna lagi.
"Bila aku berjalan agak jauh, rasanya seperti mau berhenti nafas ini," keluh mbah Dirgo suatu ketika pada seorang isterinya.
"Wajar. Usia bapak kan sudah lebih tujuh puluh tahun," sahut si isteri yang bernama Wakini itu.
"Aku berencana untuk tidak memforsir diri lagi dalam bekerja," ujarnya dengan wajah kusut masai.
"Lalu, ilmu bapak mau dikemanakan?" Tanya Wakini sambil duduk berjajar dengan suaminya, di bawah rindangnya pohon trembesi tak jauh dari rumahnya.
"Aku telah berusaha untuk sedikit demi sedikit membuang pengaruh ilmu itu dengan mantera-mantera yang telah kuhafal."
"Hasilnya bagaimana, pak?"
"Karena aku mempunyai banyak ilmu, perlu waktu lama untuk membuangnya satu persatu."
"Tidak ada yang diwariskan pak?"
"Anak-anak kita tak ada yang berminat," kata mbah Dirgo setengah mengeluh.
"Kepada orang lain, bagaimana pak?"
"Hingga saat ini belum pernah kulihat orang datang kemari untuk keperluan itu."
"Lalu?"
"Ya. Sudah resiko kita, Wakini." Mbah Dirgo memandang ke alam lepas. Alam yang di atas sana bergulung-gulung awan kelabu, bahkan berubah menghitam, pertanda hujan akan segera mengguyur mayapada.
Beberapa hari kemudian, mbah Dirgo jatuh sakit. Awalnya hanya pusing-pusing biasa. Realitanya rasa pusing ini semakin parah dan berganti dengan munculnya bintik-bintik merah hampir di sekujur tubuhnya. Berbagai macam cara ditempuh untuk menghalau penyakit aneh ini. Obat modern, jamu-jamu herbal dan banyak usaha lain yang ditempuh, belum juga mampu mendatangkan hasil memuaskan. Bahkan keadaan dirinya makin parah dengan tekanan darahnya yang terus melonjak tinggi.
Orang-orang yang sebelumnya berusaha membantu dengan caranya masing-masing, mulai menjauh. Mereka sudah angkat tangan. Tanpa ingin mendahului kehendak Yang Maha Kuasa, dalam hati kecil mereka sudah tertanam keyakinan bahwa mbah Dirgo tinggal menghitung hari saja sebagai penghuni bumi ini.
"Kasihan dia," bisik seseorang yang sempat berkunjung ke rumah mbah Dirgo.
"Sejak beberapa bulan sebelumnya, kabarnya mbah Dirgo lupa mengadakan ritual minum darah ayam. Benar demikian, kang?"
"Aku kurang tahu masalah itu, Dik. Itu urusan mbah Dirgo dan keluarganya. Kita sebaiknya hanya ikut berdoa, kalau pun tidak sembuh, mudah-mudahan ada jalan lapang saja bagi perjalanan hidup mbah Dirgo selanjutnya."
"Ya, kang. Tak baik terlalu jauh menggunjingkan kekurangan orang lain."
"Ya."
Saat dua orang ini hendak beranjak pulang, karena sudah lama keduanya di dalam ruangan tempat mbah Dirgo berbaring, terdengar ada rintihan keluar dari mulut dukun itu.
"Uhhhh!" Hanya itu. Kemudian, "Potongkan aku ayam dan ambil darahnya," ujar mbah Dirgo memelas.
Seorang anaknya yang sedang menunggu di situ segera menuruti kehendak bapaknya. Seekor ayam cemani yang mungkin sudah lama dipersiapkan langsung disembelih dan darah segarnya diberikan kepada bapaknya. Mbah Dirgo segera meneguk darah yang diwadahi cangkir kecil berwarna merah muda.
Baru saja beberapa tetes darah masuk rongga mulut, mbah Dirgo menyemprotkan kembali darah itu keluar. Darah memuncrat, berhamburan ke segala arah, hingga membasahi baju dan wajah beberapa orang yang sedang membesuknya.
Sebelum orang-orang tahu apa yang musti dilakukannya, mbah Dirgo berteriak lantang dan heweeerrrrrr. Crot. Darah kental keluar dari rongga tenggorokannya. Tubuh dukun itu berputar-putar seperti ayam baru dipotong. Sebentar membujur ke arah Utara, sebentar berbalik ke Selatan. Saking menderitanya, tubuh itu seakan terlonjak-lonjak ke atas, setengah berputar dan breg, terjerembab ke dipan kayu berukir di bawahnya.
Darah kental terus termuntahkan seakan tanpa henti. Semprotan darah ada di mana-mana. Di ranjang, selimut, sekujur tubuh mbah Dirgo dan lantai di bawahnya. Ada berliter-liter darah, mungkin, sudah terkuras dari tubuh mbah Dirgo. Tak perlu hitungan tiga detik selanjutnya, tubuh itu telah memutih kehabisan darah. Mereka yang duduk di kanan kiri ranjang hanya melonggo keheranan. Mbah Dirgo telah tiada. Dia meninggal dalam kondisi yang tersiksa dan sangat mengenaskan.
Itulah sebuah kisah nyata yang terjadi di Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur. Kisah seorang pemilik ilmu sesat untuk menumpuk harta. Kisah ini bersumber dari seorang sahabat penulis yang menyaksikan langsung peristiwa mengenaskan ini. Semoga apa yang terjadi pada mbah Dirgo bisa menjadi peringatan bagi kita. Amin.
Sumber : Dawam (misteri)
: http://forum.detik.com/ihhhh-kisah-tragis-si-dukun-santet-bkn-eyang-subur-t662694.html
GLOBALISASI
Kebijakan seperti apa yang akan anda lakukan untuk menghadapi globalisasi
GLOBALISASI
A. PENGERTIAN GLOBALISASI Menurut A.G. MacGrew, Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat belahan dunia yang lain. Menurut Internasional Monetary Fund (IMF), Globalisasi adalah meningkatnya saling ketergantungan ekonomi antara negara-negara di duia yang ditandai oleh meningkat dan beragamnya volume transaksi barang dan jasa lintas negara dan penyebaran teknologi yang meluas dan cepat. Menurut Bank Dunia, Globalisasi berarti kebebasan dan kemampuan individu dan perusahaan untuk memprakarsai transaksi ekonomi dengan orang-orang dari negara lain. Jadi Globalisasi adalah suatu proses dimana antar individu, antar kelompok dan antar negara saling berintraksi, bergantung, terkait dan saling mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. Globalisasi di tujukkkan dengan beberapa tanda-tanda yaitu : Meningkatnya perdagangan global Meningkatnya aliran modal internasional (investasi langsung dari luar negeri) Meningkatnya aliran data lintas atas (; penggunaan internet, satelit komunikasi dan telepon) Adanya desakan berbagai pihak untuk mengaddili penjahat perang di Mahkamah Kejahatan Internasional (internastional Criminal Court)dan adanya gerakan untuk menyerukan keadilan internasional Meningkatnya pertukaran budaya (cultural exchange) internasional Menyebar luasnya paham multikulturalisme dan semakin besarnya akses individu terhadap berbagai macam budaya Meningkatnya perjalanan dan turisme tingkat negara Meningkatnya imigrasi, termasuk imigrasi ilegal Berkembngnya infrastuktur telekomunikasi global Berkembangnya sistem keuangan global Meningkatnya aktivitas perekonomian dunia yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan multinasional Meningkatnya peran organisasi-organisasi internasional (WTO,IMF) yang berhubungan dengan transaksi-transaksi internasional.
Ada tiga (3) faktor penyebab meningkatnya globalisasi yaitu ; adanya perubahan politik dunia, aliran informasi yang cepat dan luas, dan berkembang pesatnya perusahaan-perusahaan internasional / traansnasional Adanya Perubahan Politik Dunia Menurut Anthony Giddens pengaruh politik yang mempengaruhi meningkatnya globalisasi yaitu : Bubarnya Uni Soviet Tahun 1991dan jatuhnya Komunisme Model uni Soviet Munculnya Mekanisme Pemerintahan Internasioal dan Regional Munculnya Organisasi Antarpemerintah (Intergovermental Organizations/IGOs) dan Organisasi Non-pemerintahInternasional (International Non-govermental Organizations/INGOs Adanya Aliran Informasi yang cepat dan luas, hal ini dipengaruhi oleh semakin pesatnya kemajuan dibidang teknologi Berkembang pesatnya perusahaan-perusahaan internasional / transnasioal (Transnasional Corporation – TNCs) yaitu perusahaan yang memproduksi barang atau jasa di lebih dari satu negara Faktor Pendukung Globalisasi yaitu : Berkembang pesatnya teknologi komunikasi Adanya integrasi ekonomi dunia
B. ARTI PENTING GLOBALISASI BAGI INDONESIA Globalisasi adalah sebuah realita, artinya globalisasi tidak bisa dihindari, dan setiap bangsa atau negara mau tidak mau akan masuk ke dunia yang global yang disebut globalisasi. Salah satu cara negara mempersiapkan diri untuk menghadapi globalisasi adalah dengan membangun sistem pendidikan yang baik yang bertujuan untuk menciptakan SDM-SDM yang berprestasi, tekun, jujur, ulet dan mau belajar terus-menerus demi kemajuan diri, keluarga, masyarakat, serta bangsa dan negaranya. Hukum globalisasi bagi bangsa indonesia yaitu (1) apappun yang terjadi di indonesia bisa menimbulkan reaksi di dunia internasional, (2) apapun yang terjadi di dunia internasional bisa memmengaruhi indonesia.
C. POLITIK LUAR NEGERI DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL DI ERA GLOBALISASI Sejak bangsa indonesia menyatakan kemerdekaannya, bangsa indonesia mulai menjalin hubungan kerjasama dengan bangsa/negara lain. Dalam menjalin hubungan kerjasama terseut bangsa indonesia menggunakan polotik luar negeri “BEBAS AKTIF”.
Landasan Hukum Politik Luar Negeri, yaitu Pembukaan UUD 1945 alinea 1 dan 4.
Tujuan-tujuan politik luar negeri indonesia yaitu : 1. Membentuk negara indonesia yang demokratis, bersatu dan berdaulat dari Sabang sampai Merauke 2. Membentuk masyarakat indonesia yang sejahtera, adil dan makmur lahir dan batin dalam wadah NKRI 3. Membentuk persahabatan dan kerjasama dengan negara-negara di dunia terutama dengan negara-negara Asia dan Afrika dalam membentuk tatanan dunia baru yang bebas dari imprialisme dan kolonialisme Prinsip-prinsip pokok yang menjadi dasar politik luar negeri indonesia yaitu : a. Negara indonesia menjalankan politik damai b. Negara indonesia bersahabat dengan segala bangsa atas dasar saling menghargai dan tidak saling mencampuri urusan negeri masing-masing negara. c. Negara indonesia memperkuat sendi-sendi hukum internasional dan organisasi internasional untuk menjamin perdamaian dunia yang abadi d. Negara indonesia berusaha mempermudah jalannyapertukran pembayaran internasional e. Negara indonesia membantu pelaksanaan keadilan sosial internasional dengan berpedoman pada pigam PBB f. Negara indonesia dalam lingkunga PBB berusaha menyokong perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa yang masih terjajah. Sebab tanpa kemerdekaan, persaudaraan dan perdamaian internasional tidak akan terwujud Politik Bebas Aktif bangsa indonesia bertujuan mewujudkan perdamaian dunia yang abadi. Politik Bebas Aktif artinya ; Ø Bebas artinya indonesia bebas menentukan sikap dan pandngannya terhadap masalah-masalah internasional. Selain itu, bebas juga berarti bangsa indonesia tidak memihak kepada salah satu kekuatan dunia (blok Barat (liberalis) atau blok Timur (komunis)) Ø Aktif artinya indonesia aktif memperjuangankan perdamaian dan ketertiban dunia. Selain itu, indonesia juga aktif memperjuangkan terwujudnya keadilan, kebebasan dan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia.
Contoh peranan indonesia dalam dunia internasional dengan politik bebas aktifnya : Indonesia menyelenggarakan Konfrensi Asia Afrika (KAA), tanggal 24 April 1955 di Bandung dan tanggal 22-23 April 2005 di Jakarta Indonesia memprakarsai berdirinya Gerakan Non-Blok (GNB)tahun 1961. gerakan ini bertujuan untuk meredakan ketegangan perang dingin antar Blok Barat dengan Blok Timur guna mewujudkan perdamaian dunia. Indonesia memprakarsai berdirinya perhimpunan negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) Indonesia. Indonesia mengirim Kontingen Garuda (Konga) keluar negeri, sampai saat ini Indonesia telah mengirimkan Kontingen Garudanya sampai dengan yang ke 23. Dan Indonesia juga ikut serta menyumbang dana untuk membantu menyelesaikan sengketa dan pertikaian yang terjadi di sejumlah negara.
Hubungan Internasional di Era Globalisasi Menurut Rencana Strategi Pelaksanaan Politik Luar Negeri RI (Renstra), Hubungan Internsional adalah hubungan antar bangsa dalam segala aspeknya yang dilakukan oleh suatu negara untuk mencapai kepentingan nasional negara tersebut. Konsep hubungan internasional berkaitan erat dengan subjek-subjek seperti ; organisasi internasional, diplomasi, hukum internasional, dan politik internasional. Asas-asas Hubungan Internasional Asas Teritorial, yaitu asas yang di dasarkan pada kekuasaan negara atas wilayahnya Asas Kebangsaan, yaitu asas yang di dasarkan pada kekuasaan negara untuk warga negaranya Asas Kepentingan Umum, yaitu asas yang di dasarkan pada wewenang negara untuk melindungi dan mengatur kepentingan dalam kehidupan bermasyarakat. Faktor yang menentukan dalam proses hubungan internasional, baik secara bilateral mapun multilateral yaitu kekuatan nasional, jumlah penduduk, sumber daya (alam dan manusia) serta letak geografis. Hubungngan internasional diperlukan oleh setiap negara karena : Faktor Internal, yaitu adanya kekhawatiran terancam kelangsungan hidupnya baik melalui kudeta atau intervensi dari negara lain Faktor eksternal, yaitu ketentuan hukum alam yaitu suatu negara tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan dan kerjasama dengan negara lain.
ref : http://www.tumblr.com/tagged/globalisasi
Langganan:
Postingan (Atom)